Menyusuri Klenteng Tua di Hang Mui Singkawang, Jejak Awal Masyarakat Hakka di Kalimantan Barat

Silvina • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 14:43 WIB
Ilustrasi situs sejarah di Hang Mui Singkawang yang sedang dikunjungi warga Tionghoa
Ilustrasi situs sejarah di Hang Mui Singkawang yang sedang dikunjungi warga Tionghoa

 

PONTIANAK POST –  Di balik pesatnya perkembangan Kota Singkawang, masih tersimpan sebuah kawasan yang menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Tionghoa Hakka di Kalimantan Barat. Kawasan yang dikenal sebagai Hang Mui ini menyimpan jejak  kelenteng tua yang diyakini menjadi salah satu pusat awal kehidupan dan peribadatan masyarakat Hakka di wilayah tersebut.

Informasi mengenai sejarah kawasan ini diungkap dalam tayangan kanal YouTube Hakastory26 yang mengulas hasil penelitian berbagai literatur sejarah. Termasuk buku Chinese Democracies: A Study of the Kongsis of West Borneo (1776–1884) karya sejarawan Prof. Yuan Bingling.

Hang Mui Berarti Jalan di Ujung Kampung

Baca Juga: Sejarah Wihara Tertua di Singkawang, Berawal dari Pondok Sederhana dan Tempat Singgah Penambang Emas Kelompok Hakka  

Dalam bahasa Hakka, Hang berarti lorong atau jalan, sedangkan Mui berarti ujung. Karena itu, Hang Mui dapat dimaknai sebagai "jalan di ujung" atau kawasan yang berada di bagian paling akhir sebuah permukiman.

Di lokasi inilah diyakini pernah berdiri sebuah kelenteng kayu yang diperkirakan dibangun sekitar 200 tahun lalu. Bangunan tersebut telah lama roboh akibat usia, kemudian dipugar menjadi kelenteng yang lebih permanen seperti yang terlihat sekarang.

Meski bangunan lama sudah tidak tersisa, masyarakat setempat masih meyakini lokasi tersebut sebagai titik awal berdirinya tempat ibadah masyarakat Tionghoa di kawasan tersebut.

Baca Juga: Wihara Tertua di Singkawang Pernah Terbakar, Patung Tua Peh Kong Selamat, Sempat Dilarang Belanda Dibangun Kembali

Pernah Menjadi Tempat Berlindung Pasukan Kongsi

Menurut penelitian Prof. Yuan Bingling yang dikutip dalam tayangan tersebut, kawasan Hang Mui memiliki peran penting pada masa perang Kongsi melawan kolonial Belanda.

Ketika terjadi Perang Kongsi fase kedua pada 1850–1854, pasukan Kongsi yang bertahan di Singkawang dan Monterado mengalami tekanan hebat dari pasukan Belanda.

Baca Juga: Asal Usul Nama Singkawang, Diyakini Berasal dari Bahasa Tionghoa yang Penuh Makna

Sebelum mundur, mereka menerapkan strategi bumi hangus dengan membakar markas, pos pertahanan, serta berbagai fasilitas agar tidak jatuh ke tangan musuh.

Setelah itu, sebagian pasukan bergerak menuju kawasan Hang Mui untuk berlindung sekaligus menyusun kembali kekuatan.

Jejak Sejarah Kini Masih Bisa Ditemukan

Baca Juga: Mengapa Singkawang Memiliki Populasi Tionghoa Terbesar? Jejaknya Berawal dari Tambang Emas Monterado

Hingga sekarang, kawasan Hang Mui masih dihuni keturunan masyarakat Tionghoa Hakka yang telah hidup berdampingan dengan masyarakat Dayak selama beberapa generasi.

Perkawinan antaretnis pun telah menjadi hal yang lazim sehingga memperlihatkan kuatnya proses akulturasi budaya di kawasan tersebut.

Di beberapa sudut kampung masih dapat ditemukan rumah-rumah tua, pagar kayu ulin, sumur tua dengan air yang jernih, hingga kelenteng yang diyakini berdiri di atas lokasi situs bersejarah tersebut.

Baca Juga: Perjalanan Berat Leluhur Suku Hakka ke Kalbar, Berjalan Kaki Berhari-hari dan Mengarungi Laut Demi Harapan Baru

Seorang warga setempat yang merupakan generasi keempat keluarga di kawasan itu menyebutkan bahwa ketika dirinya masih kecil, di lokasi tersebut hanya terdapat bongkahan batu yang menjadi tempat sembahyang.

Batu itu kemudian dibangun menjadi kuil kecil sebelum akhirnya berkembang menjadi kelenteng yang lebih besar seperti saat ini.

Jika dihitung dari cerita para leluhurnya, usia situs tersebut diperkirakan telah mencapai sekitar 200 tahun, menjadikannya salah satu jejak sejarah penting masyarakat Tionghoa Hakka di Singkawang.

 

Editor : Silvina
masyarakat hakka di singkawang situs di hang mui kawasan hang mui cerita hakka Situs Sejarah