PONTIANAK POST – Di balik pesatnya perkembangan Kota Singkawang, masih tersimpan sebuah kawasan yang menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Tionghoa Hakka di Kalimantan Barat. Kawasan yang dikenal sebagai Hang Mui ini menyimpan jejak kelenteng tua yang diyakini menjadi salah satu pusat awal kehidupan dan peribadatan masyarakat Hakka di wilayah tersebut.
Informasi mengenai sejarah kawasan ini diungkap dalam tayangan kanal YouTube Hakastory26 yang mengulas hasil penelitian berbagai literatur sejarah. Termasuk buku Chinese Democracies: A Study of the Kongsis of West Borneo (1776–1884) karya sejarawan Prof. Yuan Bingling.
Hang Mui Berarti Jalan di Ujung Kampung
Dalam bahasa Hakka, Hang berarti lorong atau jalan, sedangkan Mui berarti ujung. Karena itu, Hang Mui dapat dimaknai sebagai "jalan di ujung" atau kawasan yang berada di bagian paling akhir sebuah permukiman.
Di lokasi inilah diyakini pernah berdiri sebuah kelenteng kayu yang diperkirakan dibangun sekitar 200 tahun lalu. Bangunan tersebut telah lama roboh akibat usia, kemudian dipugar menjadi kelenteng yang lebih permanen seperti yang terlihat sekarang.
Meski bangunan lama sudah tidak tersisa, masyarakat setempat masih meyakini lokasi tersebut sebagai titik awal berdirinya tempat ibadah masyarakat Tionghoa di kawasan tersebut.
Pernah Menjadi Tempat Berlindung Pasukan Kongsi
Menurut penelitian Prof. Yuan Bingling yang dikutip dalam tayangan tersebut, kawasan Hang Mui memiliki peran penting pada masa perang Kongsi melawan kolonial Belanda.
Ketika terjadi Perang Kongsi fase kedua pada 1850–1854, pasukan Kongsi yang bertahan di Singkawang dan Monterado mengalami tekanan hebat dari pasukan Belanda.
Baca Juga: Asal Usul Nama Singkawang, Diyakini Berasal dari Bahasa Tionghoa yang Penuh Makna
Sebelum mundur, mereka menerapkan strategi bumi hangus dengan membakar markas, pos pertahanan, serta berbagai fasilitas agar tidak jatuh ke tangan musuh.
Setelah itu, sebagian pasukan bergerak menuju kawasan Hang Mui untuk berlindung sekaligus menyusun kembali kekuatan.
Jejak Sejarah Kini Masih Bisa Ditemukan
Baca Juga: Mengapa Singkawang Memiliki Populasi Tionghoa Terbesar? Jejaknya Berawal dari Tambang Emas Monterado
Hingga sekarang, kawasan Hang Mui masih dihuni keturunan masyarakat Tionghoa Hakka yang telah hidup berdampingan dengan masyarakat Dayak selama beberapa generasi.
Perkawinan antaretnis pun telah menjadi hal yang lazim sehingga memperlihatkan kuatnya proses akulturasi budaya di kawasan tersebut.
Di beberapa sudut kampung masih dapat ditemukan rumah-rumah tua, pagar kayu ulin, sumur tua dengan air yang jernih, hingga kelenteng yang diyakini berdiri di atas lokasi situs bersejarah tersebut.
Seorang warga setempat yang merupakan generasi keempat keluarga di kawasan itu menyebutkan bahwa ketika dirinya masih kecil, di lokasi tersebut hanya terdapat bongkahan batu yang menjadi tempat sembahyang.
Batu itu kemudian dibangun menjadi kuil kecil sebelum akhirnya berkembang menjadi kelenteng yang lebih besar seperti saat ini.
Jika dihitung dari cerita para leluhurnya, usia situs tersebut diperkirakan telah mencapai sekitar 200 tahun, menjadikannya salah satu jejak sejarah penting masyarakat Tionghoa Hakka di Singkawang.
Editor : Silvina