Klenteng Tua di Hang Mui Singkawang Konon Bermula dari Sebongkah Batu

Silvina • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 15:03 WIB
Ilustrasi klenteng tua di Hang Mui yang bermulai dari sebongkah batu
Ilustrasi klenteng tua di Hang Mui yang bermulai dari sebongkah batu

 

PONTIANAK POST – Klenteng tua yang berada di kawasan Hang Mui Singkawang Timur, memiliki kisah menarik sebelum dibagun. Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, keberadaan klenteng tersebut berawal dari sebongkah batu yang dijadikan tempat sembahyang oleh masyarakat setempat.

Kisah itu disampaikan salah seorang warga keturunan Tionghoa yang telah menjadi generasi keempat penghuni kawasan Hang Mui. Cerita itu terekam dalam penelusuran sejarah yang dilakukan kanal YouTube Hakastory26, yang juga mengulas berbagai peninggalan sejarah masyarakat Hakka di Singkawang.

Bermula dari Sebongkah Batu

Baca Juga: Menyusuri Jejak Republik Lanfang di Kalimantan Barat, Dari Taman hingga Klenteng Bersejarah

Menurut penuturan warga, ketika dirinya masih kecil, lokasi yang kini menjadi klenteng belum memiliki bangunan permanen.

Di tempat itu hanya terdapat sebuah batu besar yang dijadikan altar sederhana oleh masyarakat untuk berdoa dan meletakkan persembahan kepada para dewa.

Belum ada atap, pagar, maupun bangunan pelindung seperti sekarang. Meski sederhana, tempat tersebut telah menjadi pusat aktivitas keagamaan warga Tionghoa yang tinggal di kawasan Hang Mui.

Baca Juga: Menyusuri Jejak Republik Lanfang di Kalimantan Barat, Dari Taman hingga Klenteng Bersejarah

Dibangun Sedikit Demi Sedikit

Melihat semakin banyak warga yang datang bersembahyang, leluhur dari narasumber kemudian berinisiatif membuat pelindung sederhana di atas batu tersebut.

Awalnya hanya berupa bangunan kecil untuk melindungi altar dari panas dan hujan.Seiring waktu, jumlah umat yang datang semakin bertambah. Bangunan kecil itu kemudian diperluas hingga berubah menjadi kuil sederhana.

Baca Juga: Benarkah Pendiri Singapura Lee Kuan Yew Keturunan Republik Lanfang? Ini Penjelasannya

Perkembangan itu terus berlanjut dari generasi ke generasi hingga akhirnya berdirilah klenteng yang lebih besar dan permanen seperti yang terlihat sekarang.

Diperkirakan Telah Berusia Hampir 200 Tahun

Berdasarkan cerita para leluhur, usia tempat ibadah tersebut diperkirakan telah mencapai sekitar 200 tahun, bahkan mungkin lebih tua.

Baca Juga: Mengintip Klenteng Surga Neraka di Singkawang, Destinasi Ikonik dengan Arsitektur Memukau dan Sarat Filosofi

Pada masa awal, bangunan klenteng dibuat dari material kayu sehingga sebagian besar bagian aslinya telah lapuk dimakan usia.

Karena kondisi tersebut, masyarakat kemudian melakukan pemugaran dengan tetap mempertahankan lokasi yang diyakini sebagai tempat awal berdirinya klenteng.

Hingga kini, kawasan Hang Mui masih menjadi salah satu permukiman tua masyarakat Tionghoa Hakka di Singkawang Timur.

Baca Juga: Menyusuri Situs Sejarah di Hang Mui Singkawang, Jejak Awal Masyarakat Hakka di Kalimantan Barat

Menjadi Warisan Sejarah Masyarakat Hakka

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, klenteng di Hang Mui juga menjadi pengingat perjalanan panjang masyarakat Hakka yang datang dan menetap di Singkawang sejak ratusan tahun lalu.

Di sekitarnya masih dapat dijumpai rumah-rumah tua, sumur berusia puluhan hingga ratusan tahun, serta jejak akulturasi masyarakat Tionghoa dan Dayak yang telah berlangsung selama beberapa generasi.

Baca Juga: Jarang Terekspos, Begini Penampakan Isi Rumah Hakka di Kubu Raya yang Sangat Megah

Meski kisah asal-usulnya kini hanya hidup melalui cerita lisan para tetua kampung, keberadaan klenteng tersebut menjadi bukti bahwa sejarah sering kali berawal dari sesuatu yang sangat sederhana.

Dari sebongkah batu yang digunakan untuk bersembahyang, tumbuh sebuah tempat ibadah yang hingga kini masih berdiri dan menjadi bagian penting dari warisan budaya masyarakat Hakka di Kota Singkawang.

Editor : Silvina
hang mui sejarah singkawang klenteng tua di singkawang jejak sejarah hakka Situs Sejarah