PONTIANAK POST – Hang Mui di Singkawang Timur Kota Singkawang tidak sekadar memiliki klenteng tua. Kawasan ini juga menyimpan jejak sebuah peradaban masyarakat Hakka yang masih bertahan hingga sekarang.
Jejak peradaban ini terlihat mulai dari rumah-rumah tua, sumur berusia ratusan tahun, kawasan Sabo, hingga tradisi yang masih diwariskan secara turun-temurun. Semuanya menjadi bukti bahwa Hang Mui pernah menjadi salah satu permukiman penting masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat.
Penelusuran tersebut diungkap dalam tayangan kanal YouTube Hakastory26 yang mendokumentasikan berbagai peninggalan sejarah di Hang Mui berdasarkan cerita warga serta hasil penelitian sejumlah literatur sejarah masyarakat Hakka.
Baca Juga: Menyusuri Situs Sejarah di Hang Mui Singkawang, Jejak Awal Masyarakat Hakka di Kalimantan Barat
Hang Mui Menjadi Jejak Permukiman Awal Masyarakat Hakka
Keberadaan Hang Mui memperlihatkan bagaimana masyarakat Hakka membangun kehidupan mereka sejak ratusan tahun lalu.
Tidak hanya mendirikan tempat ibadah, mereka juga membangun permukiman, memanfaatkan sumber air, membuka lahan pertanian, hingga membentuk kehidupan sosial yang kemudian berkembang menjadi sebuah komunitas yang bertahan lintas generasi.
Baca Juga: Klenteng Tua di Hang Mui Singkawang Konon Bermula dari Sebongkah Batu
Meski sebagian bangunan telah berganti mengikuti perkembangan zaman, sejumlah peninggalan masa lalu masih dapat ditemukan hingga sekarang.
Rumah Tua Masih Berdiri Menembus Zaman
Salah satu peninggalan yang masih dapat dijumpai ialah rumah-rumah tua yang menggunakan pagar dari kayu ulin.
Baca Juga: Menyusuri Rumah Hakka Terbesar di Kalbar, Bangunan Unik yang Disebut Hanya Ada Dua di Asia Tenggara
Material khas Kalimantan tersebut terkenal sangat kuat sehingga mampu bertahan selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Rumah-rumah itu menjadi saksi bagaimana masyarakat Hakka dahulu membangun permukiman yang sederhana, tetapi kokoh dan menyesuaikan dengan kondisi alam Kalimantan.
Namun, jumlahnya kini semakin sedikit karena banyak bangunan lama telah lapuk dimakan usia atau diganti dengan rumah modern.
Baca Juga: Sejarah Rumah Tertua Keluarga Tjhia di Singkawang, Dibangun Perantau yang Bangkit dari Kebangkrutan
Sumur Tua Menjadi Sumber Kehidupan Warga
Jejak peradaban lainnya terlihat dari keberadaan sumur-sumur tua yang hingga kini masih menyimpan air jernih.
Sebelum jaringan air bersih masuk ke kawasan Hang Mui, sumur-sumur tersebut menjadi sumber utama kehidupan masyarakat.
Airnya dimanfaatkan untuk memasak, mencuci, mandi, hingga memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Kini, sumur itu tidak hanya memiliki fungsi historis, tetapi juga menjadi bukti bagaimana masyarakat tempo dulu mampu memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Kampung Sabo Menyimpan Cerita Masa Lalu
Baca Juga: Keramik Singkawang Masih Dibakar dengan Tungku Naga, Kualitasnya Diakui hingga Tingkat Nasional
Di dalam kawasan Hang Mui terdapat sebuah wilayah yang dikenal dengan nama Sabo.Dalam bahasa Hakka, "Sa" berarti pasir, sedangkan "Bo" berarti cekungan atau lembah.
Nama tersebut diyakini menggambarkan kondisi geografis kawasan itu pada masa lalu.Menurut cerita warga, Sabo dahulu dipenuhi kolam-kolam teratai yang bunganya dipetik untuk keperluan persembahyangan di kelenteng.
Seiring perubahan zaman, sebagian besar kolam teratai dialihfungsikan menjadi kolam budidaya ikan setelah masyarakat menerima bantuan benih dari pemerintah.
Transformasi itu menunjukkan bagaimana masyarakat Hang Mui mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi tanpa meninggalkan kawasan yang diwariskan leluhur mereka.
Warisan Peradaban yang Perlu Dijaga
Banyak peninggalan fisik mulai hilang karena usia, sementara sebagian generasi muda hanya mengenal sejarah kampung mereka melalui cerita lisan.
Baca Juga: Asal Usul Nama Singkawang, Diyakini Berasal dari Bahasa Tionghoa yang Penuh Makna
Padahal, Hang Mui bukan hanya menyimpan satu bangunan bersejarah, melainkan merekam perjalanan sebuah komunitas yang membangun kehidupan, budaya, dan tradisi di Singkawang selama hampir dua abad.
Karena itu, kawasan ini layak dipandang sebagai jejak peradaban masyarakat Hakka di Kalimantan Barat yang perlu didokumentasikan dan dilestarikan agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Editor : Silvina