PONTIANAK POST — Sebanyak 218 titik panas atau hotspot Singkawang terdeteksi sejak Februari hingga Juli 2026. Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Kalimantan IX/Singkawang langsung melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan titik panas tidak berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang lebih luas.
Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan IX/Singkawang, Yuyu Wahyudin, mengatakan seluruh informasi hotspot yang terpantau segera ditindaklanjuti dengan pengecekan lapangan atau groundcheck.
"Seluruh titik panas tersebut langsung diverifikasi melalui pengecekan lapangan (groundcheck) sebagai bagian dari upaya deteksi dini untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas," ujar Yuyu Wahyudin di Singkawang, Selasa (28/7).
Baca Juga: BMKG Deteksi 147 Hotspot, Karhutla Kubu Raya Kian Mengkhawatirkan
218 Hotspot Dipantau Melalui SIPONGI
Pemantauan hotspot dilakukan secara intensif menggunakan aplikasi Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SIPONGI).
Setiap hotspot yang terpantau tidak langsung dianggap sebagai titik kebakaran. Manggala Agni melakukan analisis dan pengecekan lapangan untuk memastikan kondisi aktual di lokasi sebelum menentukan langkah penanganan.
"Setiap hotspot yang terpantau melalui SIPONGI dianalisis dan diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi aktual di lokasi serta menentukan langkah penanganan yang diperlukan," ujar Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan IX/Singkawang, Yuyu Wahyudin.
Baca Juga: Karhutla Meluas di Delapan Daerah Kalbar, BPBD Intensifkan Operasi Darat dan Water Bombing
Pembakaran Lahan Masih Jadi Ancaman
Hasil identifikasi di lapangan menunjukkan sebagian besar kejadian karhutla masih dipicu aktivitas pembukaan dan pembersihan lahan dengan cara membakar.
Setiap hotspot yang terkonfirmasi langsung ditangani melalui pemadaman dan pendinginan lokasi. Petugas juga memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak menggunakan api dalam mengelola lahan.
Baca Juga: Bhabinkamtibmas dan MPA Berjibaku Padamkan Karhutla di Singkawang, Selamatkan Lahan dari Kobaran Api
Karhutla Singkawang Sudah Membakar 374,74 Hektare
Ancaman karhutla di Singkawang tergambar dari luas lahan yang terbakar. Berdasarkan data SIPONGI, kebakaran hutan dan lahan di Kota Singkawang sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai sekitar 374,74 hektare.
Data tersebut memperlihatkan pentingnya respons cepat terhadap setiap titik panas. Deteksi dan verifikasi sejak dini diharapkan dapat mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
Menurut Yuyu, deteksi dini menjadi strategi utama dalam pengendalian karhutla. Manggala Agni tidak hanya mengandalkan pemantauan berbasis satelit, tetapi juga memperkuat patroli rutin dan patroli mandiri di kawasan yang dinilai rawan.
Musim Kemarau dan Potensi El Nino Diwaspadai
Manggala Agni bersama tim gabungan terus memperkuat pencegahan menghadapi musim kemarau dan potensi pengaruh fenomena El Nino.
Patroli terpadu, pemantauan hotspot, sosialisasi kepada masyarakat, serta peningkatan kesiapsiagaan personel dilakukan untuk memperkecil risiko karhutla.
Upaya tersebut menjadi penting karena kebakaran yang tidak segera dikendalikan dapat meluas dan berpotensi menimbulkan bencana asap. Dampaknya dapat dirasakan masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah terdampak.
Masyarakat dan Pelaku Usaha Diminta Tidak Membakar Lahan
Kepala Seksi Wilayah II Pontianak Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Sahat Irawan Manik, mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar menghentikan praktik pembakaran lahan.
"Kami mengimbau seluruh masyarakat dan pelaku usaha di Singkawang untuk tidak melakukan pembakaran saat membuka atau membersihkan lahan. Pencegahan menjadi tanggung jawab bersama agar bencana asap tidak kembali terjadi," katanya.
Sahat mengatakan sinergi pemerintah, Manggala Agni, TNI-Polri, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat akan terus diperkuat.
Kolaborasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan efektivitas deteksi dini dan penanganan karhutla selama musim kemarau.
Bagi masyarakat Singkawang, setiap titik panas yang berhasil ditemukan dan diverifikasi lebih awal menjadi peluang untuk menghentikan api sebelum meluas.
Upaya tersebut juga menjadi bagian dari pencegahan agar ancaman karhutla tidak kembali menghadirkan bencana asap bagi warga.*
Sumber : Antara