PONTIANAK POST – Memadamkan api di lahan gambut belum tentu selesai ketika kobaran api sudah terlihat padam. Kondisi tersebut juga dihadapi tim gabungan saat menangani karhutla di Jalan Senen, Kelurahan Sungai Rasau, Kecamatan Singkawang Utara, Kota Singkawang.
Kebakaran yang melanda sekitar 36 hektare lahan itu masih ditangani hingga hari ke-16. Petugas masih melakukan pendinginan dan penyisiran karena menemukan bara serta kepulan asap di sejumlah bagian lahan.
Bara Bisa Bertahan di Dalam Gambut
Kasi Humas Polres Singkawang IPTU Hidayatno mengatakan, lahan yang terbakar didominasi tanah gambut. Vegetasinya meliputi kebun sawit, karet, nanas, rambutan, semak belukar, dan rerumputan yang mengering.
Kondisi lahan gambut dan vegetasi kering membuat proses penanganan menjadi lebih menantang. Api dapat menyebar dengan mudah, sementara bara bisa bertahan di dalam lapisan gambut.
"Api untuk sementara berhasil dikendalikan, namun petugas masih menemukan beberapa titik api kecil dan kepulan asap di sejumlah bagian lahan," ujarnya, Minggu (6/9).
Karena itu, penyiraman dan pendinginan dilakukan secara berulang. Petugas menyisir kawasan terdampak untuk memastikan bara yang masih tersisa tidak kembali memicu kebakaran.
Baca Juga: Karhutla 36 Hektare di Singkawang Belum Sepenuhnya Padam, Tim Gabungan Terus Menyisir
Sumber Air Berjarak Hingga 500 Meter
Selain karakteristik lahan, petugas juga menghadapi kendala keterbatasan sumber air. Lokasi sumber air berjarak sekitar 250 hingga 500 meter dari titik kebakaran.
Untuk mendukung penanganan, tim gabungan menggunakan sejumlah mesin pompa air dan mobil tangki pemadam.
Lebih dari 130 personel dikerahkan. Mereka terdiri atas personel Polres Singkawang, Polsek Singkawang Utara, Brimob Polda Kalimantan Barat, TNI, BPBD Kota Singkawang, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta unsur Kecamatan Singkawang Utara.
Hidayatno mengatakan penyisiran dan penyiraman tetap dilakukan pada bagian lahan yang masih mengeluarkan asap untuk mencegah bara kembali menyala dan meluas ke area lain.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara