PONTIANAK POST– Sebanyak 140 guru di Kota Singkawang mengikuti kegiatan peningkatan kompetensi melalui program Sagusaku (Satu Guru Satu Buku) yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Singkawang bersama Ikatan Guru Indonesia (IGI). Kegiatan tersebut dipusatkan di Basement Kantor Wali Kota Singkawang, Senin (28/9).
Kepala Disdikbud Kota Singkawang Asmadi mengatakan, Sagusaku merupakan salah satu program kerja IGI Singkawang dan Korwil Provinsi untuk meningkatkan kompetensi guru melalui kegiatan menulis.
“Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja IGI Singkawang dan Korwil Provinsi dalam rangka meningkatkan kompetensi guru agar guru bisa menulis dengan target satu guru satu buku (Sagusaku),” kata Asmadi.
Baca Juga: Empat Motor Berknalpot Brong Ditertibkan, Dinas Pendidikan Kapuas Hulu Ingatkan Pelajar
Menurutnya, kebiasaan menulis guru berkaitan dengan minat baca peserta didik. Guru menjadi teladan bagi siswa dalam membangun budaya literasi.
“Dalam artian, tidak akan mungkin seorang anak gemar membaca, jika gurunya tidak rajin menulis. Sebaliknya, jika guru senang atau suka menulis otomatis anak didiknya juga akan suka membaca. Sehingga, literasi dan numerasi kita akan meningkat,” ujarnya.
Asmadi mengatakan, tantangan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengajar, tetapi juga kemampuan guru beradaptasi dan berkreasi. Menulis buku dinilai dapat mengasah kemampuan berpikir kritis, sistematis, dan inovatif yang kemudian dapat diterapkan dalam pembelajaran.
Sementara itu, Wakil Ketua IGI Kalimantan Barat Arnold Jacobus yang menjadi pemateri mengapresiasi antusiasme peserta. Menurutnya, kehadiran 140 guru menunjukkan minat terhadap kegiatan literasi.
Baca Juga: Pemkot Pontianak Buka Job Fit untuk Isi Jabatan Kepala Dinas Pendidikan dan Perumahan yang Kosong
“Para peserta yang hadir diharapkan bisa mencetak 1 buku yang ber-ISBN sehingga buku tersebut bisa berdampak positif bagi orang lain khususnya peserta didik,” katanya.
Ia menekankan target program tersebut adalah setiap guru mampu menerbitkan minimal satu buku ber-ISBN (International Standard Book Number). Buku tersebut diharapkan dapat menjadi sumber belajar sekaligus karya yang bermanfaat bagi peserta didik.
“Buku yang ber-ISBN itu bukan hanya untuk kebanggaan pribadi, tapi warisan. Ilmu yang ditulis akan terus hidup dan memberi manfaat bagi orang lain, terutama bagi peserta didik kita. Itulah esensi guru yang sesungguhnya, menginspirasi melalui karya,” pungkasnya.
Melalui program Sagusaku, Kota Singkawang diharapkan memiliki kumpulan karya guru lokal yang memuat kearifan lokal dan inovasi pembelajaran. Program tersebut juga diharapkan mendukung peningkatan literasi dan numerasi. (har)
Editor : Miftahul Khair