Singkawang, Kota Multikultur yang Menyimpan Jejak Sejarah Kolonial

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:14 WIB
RITUAL: Para tatung melakukan ritual cuci jalan di Vihara Tri Dharma Bumi Raya, Singkawang, Senin (2/3/2026), sehari menjelang puncak Festival Cap Go Meh.
RITUAL: Para tatung melakukan ritual cuci jalan di Vihara Tri Dharma Bumi Raya, Singkawang, Senin (2/3/2026), sehari menjelang puncak Festival Cap Go Meh. 

PONTIANAK POST – Keberagaman Singkawang tidak hanya terlihat dalam perayaan Cap Go Meh dan tradisi tatung. Kota di Kalimantan Barat ini juga menyimpan jejak sejarah berupa kawasan lama, bangunan bersejarah, dan jalur perdagangan yang merekam perjumpaan masyarakat dari beragam latar budaya.

Jejak tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai Singkawang Heritage yang disampaikan Timur Triono dari Museum Provinsi Kalimantan Barat dalam Webinar Series Forum Kebhinekaan Seri ke-40 bertema “Tinggalan Arkeologi Kolonial dan Multikulturalisme”, Selasa (29/9).

Timur menjelaskan, Singkawang memiliki beragam tinggalan budaya, baik berupa warisan budaya benda maupun tak benda. Tradisi tatung dan perayaan Cap Go Meh menjadi contoh warisan budaya yang dikenal luas dan telah masuk dalam kalender pariwisata nasional.

Namun, sejarah keberagaman Singkawang tidak hanya dapat ditelusuri melalui tradisi yang masih berlangsung. Perkembangan kawasan kota dan jalur perdagangan pada masa lalu juga menjadi bagian penting untuk memahami terbentuknya masyarakat multikultural di kota ini.

Sungai Singkawang dan Jalur Menuju Monterado

Timur memaparkan, Sungai Singkawang memiliki peran dalam perkembangan kawasan tersebut. Pada masa lalu, sungai menjadi jalur masuk bagi pedagang dan masyarakat dari luar menuju Singkawang, kemudian melanjutkan perjalanan ke Monterado.

Di sekitar sungai terdapat sejumlah bangunan peninggalan kolonial yang kini berada di kawasan yang dikenal sebagai kawasan 0 kilometer. Keberadaan tinggalan tersebut menjadi petunjuk untuk menelusuri perkembangan kota, aktivitas perdagangan, dan perubahan ruang perkotaan dari masa ke masa.

Salah satu bangunan yang disoroti ialah Menara Masjid Raya Singkawang. Menurut Timur, meskipun bangunan masjid telah beberapa kali mengalami renovasi, menaranya tetap dipertahankan sebagai penanda sejarah perkembangan Islam di Singkawang.

Tinggalan semacam ini penting karena sejarah kota tidak hanya tersimpan dalam dokumen tertulis. Bangunan dan kawasan lama juga dapat menjadi sumber untuk menelusuri aktivitas masyarakat, perkembangan permukiman, serta hubungan antarkelompok yang membentuk kehidupan kota.

Keberagaman Bukan Berarti Selalu Setara

Perspektif lebih luas mengenai masyarakat multikultural disampaikan Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Iim Imaduddin. Ia mengingatkan bahwa keberagaman masyarakat pada masa kolonial tidak dapat langsung disamakan dengan kehidupan multikultural yang mengakui kesetaraan.

Pada masa Hindia Belanda, konsep plural society menggambarkan masyarakat yang terdiri atas beragam kelompok, tetapi cenderung tersegmentasi dan memiliki hubungan sosial yang hierarkis serta tidak setara.

Dalam perkembangannya, pluralisme modern menekankan hak setiap kelompok untuk hidup dan berpartisipasi. Sementara itu, multikulturalisme menempatkan pengakuan terhadap perbedaan budaya sebagai bagian dari kehidupan bersama.

“Ketika melihat plural society, mereka berbeda, namun hidup dalam masyarakat yang sama. Pluralisme modern, mereka berbeda dan memiliki hak untuk hidup serta berpartisipasi. Dalam konteks multikulturalisme, perbedaan budaya perlu diakui dalam kehidupan bersama,” jelas Iim.

Menurut dia, konsep tersebut perlu diuji melalui bukti penelitian arkeologi. Hubungan antarkelompok pada masa kolonial tidak selalu menunjukkan pola pemisahan sosial yang kaku. Dalam sejumlah kasus, perjumpaan antarkelompok, termasuk perkawinan campuran, turut membentuk komunitas peranakan di berbagai wilayah Indonesia.

Penelitian terhadap tinggalan arkeologi dapat membantu menjelaskan bagaimana hubungan sosial berkembang dalam konteks sejarah yang berbeda-beda. Bangunan, kawasan perdagangan, rumah ibadah, dan pola permukiman dapat memberikan petunjuk tentang interaksi masyarakat yang tidak selalu terekam secara lengkap dalam dokumen sejarah.

Warisan Sejarah sebagai Ruang Belajar

Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Iwan Hermawan, mencontohkan perkembangan Kota Bandung sebagai salah satu gambaran dinamika masyarakat multikultural pada masa kolonial.

Pada masa itu, permukiman berkembang dengan pengelompokan sosial dan etnis, antara lain masyarakat Eropa, Tionghoa, Arab, dan pribumi Nusantara. Namun, aktivitas perdagangan dan kehidupan sehari-hari juga membuka ruang perjumpaan antarkelompok.

Kawasan Pasar Baru, misalnya, berkembang setelah dibangun kembali pada 1906 menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi yang mempertemukan masyarakat Tionghoa, Arab, India, Sunda, dan Jawa. Perkembangan arsitektur, rumah ibadah, kawasan niaga, stasiun, serta infrastruktur kota ikut merekam dinamika tersebut.

Iwan juga menyoroti penggunaan bahasa dan percampuran budaya dalam kehidupan masyarakat. Komunitas peranakan Tionghoa, misalnya, mengadopsi bahasa Sunda dalam keseharian mereka. Hal itu menunjukkan bahwa hubungan budaya dapat berkembang meskipun masyarakat sebelumnya hidup dalam ruang sosial yang tersegmentasi.

Bagi Singkawang, pendekatan serupa dapat digunakan untuk membaca kembali sejarah kawasan lama, jalur sungai, bangunan bersejarah, dan tradisi masyarakat. Namun, setiap tinggalan perlu dikaji berdasarkan konteks sejarahnya agar kisah masa lalu tidak disederhanakan menjadi gambaran keberagaman semata.

Iim berharap forum ilmiah mengenai arkeologi dan multikulturalisme dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Menurutnya, tinggalan sejarah tidak hanya berkaitan dengan bentuk fisik bangunan, tetapi juga menyimpan rekaman interaksi sosial, perkembangan kota, dan perjumpaan budaya.

Dengan memahami jejak tersebut, masyarakat dapat melihat bahwa keberagaman Singkawang memiliki dimensi sejarah yang panjang. Pelestarian warisan budaya pun tidak hanya berarti menjaga bangunan atau mempertahankan tradisi, tetapi juga merawat pengetahuan tentang bagaimana masyarakat dengan latar berbeda membentuk kehidupan bersama. *

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
sejarah singkawang Singkawang Heritage Menara Masjid Raya Singkawang multikulturalisme Monterado