Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Sintang, Maryadi menyebutkan ada lima strategi nasional dalam menuntaskan masalah stunting sehingga daerah hanya mengikuti dan menjalankan lima strategi tersebut.
“Salah satunya adalah melakukan audit kasus stunting. Kita sudah melakukan audit kasus stunting di 2 desa yakni Desa Bancong Kecamatan Sungai Tebelian dan Desa Kemantan Sepauk. Hasil audit akan dianalisa oleh tim pakar untuk mendapatkan masalah dan rekomendasi kepada Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Sintang, dan selanjutnya akan dilakukan intervensi oleh semua pihak seperti OPD di Lingkungan Pemkab Sintang, Kementerian Agama, dan tokoh agama,” terang Maryadi.
Ia menuturkan, tim Puskesmas Sepauk sudah melakukan verifikasi terhadap 3 kasus ibu hamil dan 2 bayi di Desa Kemantan. Hasilnya adalah sanitasi belum ada, tidak memiliki WC, menikah di usia remaja, ada closed tapi tidak ada septik tank.
“Tujuan kegiatan adalah memberikan informasi kepada seluruh instansi terkait untuk mengintervensi. Makanya dijelaskan, kasus ini seperti ini, yang mengintervensi ini, contoh, tidak punya jamban yang layak, tidak mampu mengakses air bersih, instansi mana yang mengintervensi, misalnya dari Instansi Perkim. Melalui kegiatan ini kita bisa lebih fokus lagi bagaimana langkah-langkah untuk menangani kasus stunting dan gizi buruk ini,” ucapnya.
Tim Pakar Audit Stunting Kabupaten Sintang, Adi Sulistiyanto menjelaskan bahwa menikah diusia remaja sangat erat kaitannya dengan pola asuh dan pemenuhan akan gizi anak karena ibunya belum memahami pola asuh yang baik sehingga anak tidak diberikan gizi yang cukup.
“Sehingga akan melahirkan anak-anak yang kurang gizi. Kami di Pusat Penatalaksana Gizi Buruk Kabupaten siap membantu melakukan intervensi terhadap kasus di Bancoh dan Kemantan,” ujarnya.
Noverita Siboro yang merupakan Psikolog anggota Tim Pakar yang menyoroti hasil verifikasi yang menunjukkan adanya pernikahan di usia remaja dan pendidikan orang tua. “Dari paparan, terlihat mereka menikah diusia muda dan hanya tamat SD dan SMP. Hal ini pasti akan mempengaruhi cara mereka menjaga kandungan dan mengasuh anak-anak mereka. Wawasan mereka masih minim, mereka kan masih remaja dan punya anak, emosi juga akan mempengaruhi,” pungkasnya. (var) Editor : Misbahul Munir S