PONTIANAK POST - Rumah Betang Ensaid Panjang di Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, menjalani rehabilitasi untuk menjaga kelestariannya sebagai satu diantara rumah tradisional suku Dayak. Proyek ini mencakup perbaikan struktur, pembangunan toilet, penyediaan tempat sampah, dan penataan kawasan sekitarnya.
Kepala Seksi Pelaksana Wilayah II Balai Prasarana Permukiman Wilayah Kalimantan Barat Bartel mengungkapkan proses rehabilitasi berlangsung sejak 30 April 2024 dan dijadwalkan selesai pada 31 Desember 2024. Proyek ini menelan anggaran lebih dari Rp19 miliar yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2024.
"Rehabilitasi ini tidak hanya memperbaiki rumah Betang, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan kenyamanan penghuni maupun pengunjung," ujar Bartel, Rabu (12/1).
Bartel menuturkan Rumah Betang Ensaid Panjang merupakan simbol budaya masyarakat Dayak yang masih mempertahankan kearifan lokal. Selain sebagai tempat tinggal, rumah Betang juga berfungsi sebagai pusat aktivitas sosial dan budaya. Dengan adanya rehabilitasi ini, diharapkan keberlangsungan fungsi rumah Betang dapat tetap terjaga.
Bupati Sintang Jarot Winarno menilai kawasan Ensaid Panjang memiliki potensi besar sebagai destinasi budaya. Ia membandingkan kawasan ini dengan Nanga Suhaid di Kapuas Hulu.
Baca Juga: Universitas Tanjungpura Pontianak Siapkan Kuota 8.056 Mahasiswa Baru
"Kita punya rumah Betang, hutan masyarakat, dan kain tenun khas yang sudah digunakan Presiden Jokowi di Waterfront Bali," kata Jarot.
Ia menambahkan bahwa keunikan kain tenun Ensaid Panjang telah diakui secara luas. Bahkan, Bupati Kapuas Hulu terpilih juga mengakui keunggulan kawasan ini dibandingkan dengan wilayahnya.
"Semua ini harus kita jaga. Saya sendiri sudah banyak membeli kain tenun dari Ensaid, ada enam kain yang saya koleksi," tambahnya.
Jarot menyampaikan apresiasi kepada Balai Prasarana Permukiman Wilayah Kalimantan Barat atas upaya rehabilitasi ini. Ia berharap masyarakat dapat menjaga dan merawat rumah Betang agar tetap lestari dan menjadi kebanggaan bersama.
"Dengan adanya rehabilitasi ini diharapkan kawasan Ensaid Panjang semakin berkembang sebagai pusat budaya dan wisata sekaligus mempertahankan identitas masyarakat Dayak di Sintang," tutup Jarot. (nda)
Editor : A'an