Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Perayaan Malam Cap Go Meh Sintang 2025 Wujud Keberagaman Budaya

A'an • Kamis, 13 Februari 2025 | 11:44 WIB

 

MERIAH : Suasana meriah malam Cap Go Meh sekaligus penutupan tahun baru Imlek 2576 yang digelar di Waterfront Sintang pada Selasa (11/2) malam.
MERIAH : Suasana meriah malam Cap Go Meh sekaligus penutupan tahun baru Imlek 2576 yang digelar di Waterfront Sintang pada Selasa (11/2) malam.

 

PONTIANAK POST - Ribuan masyarakat serta para pejabat Forkompinda Kabupaten Sintang menghadiri perayaan malam Cap Go Meh sekaligus penutupan tahun baru Imlek 2576 yang digelar di Waterfront Sintang pada Selasa (11/2) malam. Acara yang diselenggarakan oleh masyarakat Tionghoa Kabupaten Sintang ini berlangsung meriah dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya.

Ketua Panitia Perayaan Cap Go Meh 2025 Lim Hie Soen menjelaskan bahwa Cap Go Meh merupakan salah satu perayaan penting bagi etnis Tionghoa.

"Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien/Tio Ciu, di mana 'Cap Go' berarti lima belas dan 'Meh' berarti malam, sehingga Cap Go Meh bermakna malam ke-15 setelah Tahun Baru Imlek," ujar Lim.

Ia menambahkan bahwa perayaan ini bertujuan untuk merevitalisasi budaya Tionghoa serta memperkenalkannya kepada masyarakat Sintang, terutama generasi muda.

"Kami ingin Cap Go Meh menjadi wadah bagi seluruh warga Sintang untuk mengenal lebih dalam budaya Tionghoa serta memperkuat toleransi antar umat beragama dan budaya," tuturnya.

Semangat keberagaman dan kebersamaan dalam perayaan ini juga sejalan dengan ajakan Menteri Agama RI yang mendorong umat yang merayakan Imlek untuk menjadikannya sebagai momentum memperbaiki diri, meluruskan hati, dan berkontribusi dalam pembangunan negeri.

Sementara itu, Wakil Bupati Sintang Melkianus menyampaikan apresiasinya terhadap keberagaman umat beragama di Sintang. Ia menekankan pentingnya menjaga kerukunan dan persatuan di tengah masyarakat yang multikultural.

"Kabupaten Sintang adalah rumah bagi berbagai suku, agama, dan budaya. Keberagaman ini harus kita rawat bersama agar tetap harmonis dan menjadi kekuatan bagi kita semua," ujar Melkianus.

Ia juga menyoroti bagaimana perayaan Cap Go Meh tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya Tionghoa, tetapi juga sebagai simbol persaudaraan antarwarga Sintang.

"Ketika semua masyarakat bisa berkumpul, bersuka cita, dan saling menghormati dalam satu perayaan, itu adalah bukti bahwa toleransi di Sintang berjalan dengan baik," katanya.

Melkianus berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan.

"Mari kita jadikan Sintang sebagai contoh daerah yang menjunjung tinggi keberagaman dan saling menghormati antarumat beragama," pungkasnya. (nda)

Editor : A'an
#sintang #Malam Cap Go Meh #perayaan #keberagaman budaya