Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kasus IMS di Sintang Mencapai 126 Kasus di 2025, Dinkes Imbau Waspadai Pergaulan Bebas!

Riska Nanda Kumala Sari • Rabu, 16 April 2025 | 14:12 WIB
IMS : Kasus penyakit infeksi menular seksual (IMS) di Kabupaten Sintang terus menjadi perhatian serius.
IMS : Kasus penyakit infeksi menular seksual (IMS) di Kabupaten Sintang terus menjadi perhatian serius.

PONTIANAK POST - Kasus penyakit infeksi menular seksual (IMS) di Kabupaten Sintang terus menjadi perhatian serius. Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 126 kasus IMS ditemukan di wilayah tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Edy Harmaini, mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh penyebaran penyakit ini.

“Penyakit ini berbahaya karena seringkali tidak menunjukkan gejala awal yang jelas. Masyarakat harus lebih waspada, terutama terhadap pergaulan bebas yang bisa menjadi jalur penularan utama,” ujar Edy Harmaini di Sintang kemarin.

Ia juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam pengawasan terhadap anak-anak, khususnya remaja. Edy mengimbau agar orang tua lebih memperhatikan aktivitas anak, termasuk membatasi mereka untuk keluar malam.

“Kita tidak pernah tahu siapa yang mengidap penyakit ini. Penularannya bisa terjadi melalui hubungan seksual, dan ini menjadi tantangan besar terutama bagi remaja. Orang tua harus menjaga dan mengarahkan anak agar tidak terjerumus,” tambahnya.

Di sisi lain, Penanggung Jawab Program IMS Puskesmas Sungai Durian, Elisabeth, menyatakan ada tren penurunan kasus IMS di Kelurahan Kapuas Kanan Hulu. Menurutnya, penurunan ini terjadi karena adanya kegiatan penyuluhan yang rutin dilakukan hingga ke sekolah-sekolah.

“Kami aktif memberikan penyuluhan, melakukan pemeriksaan IMS, serta menjalin kerjasama lintas bagian seperti laboratorium dan farmasi. Kami juga menggandeng program HIV, karena tidak mungkin program ini berjalan sendiri,” kata Elisabeth ketika ditemui, Selasa (15/4).

Namun, ia mengakui bahwa upaya penanggulangan di wilayah lokalisasi masih menjadi tantangan tersendiri.

“Di daerah lokalisasi itu agak sulit dijangkau. Kita harus bekerjasama dengan berbagai pihak seperti RT setempat dan bahkan pengelola tempat tersebut. Kami tidak bisa bekerja sendiri,” ungkapnya.

Elisabeth juga menekankan pentingnya pengobatan menyeluruh, tidak hanya bagi penderita tetapi juga pasangan mereka, untuk benar-benar memutus rantai penularan.

“Kalau ada kasus, kita langsung tindaklanjuti bersama dokter. Pasangan dari penderita juga harus diobati, karena kalau hanya satu, penularan tetap bisa terjadi. Ini yang ingin kami putus,” tegasnya.

Baik Dinas Kesehatan maupun pihak puskesmas sama-sama mengimbau masyarakat agar menjaga pola pergaulan dan tidak menganggap enteng risiko penyakit IMS.

“Kami berharap masyarakat lebih berhati-hati dan bertanggung jawab dalam menjaga kesehatan diri sendiri dan orang lain,” tutup Elisabeth. (nda)

Editor : Hanif
#sintang #pergaulan bebas #dinas kesehatan #hiv #ims