PONTIANAK POST - Kasus stres dan tekanan psikologis pada remaja menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Menanggapi fenomena ini, pemerhati remaja asal Sintang, Yolanda Maharani Putri, menyampaikan pentingnya kesadaran bersama bahwa stres bukanlah hal sepele apalagi dianggap sebagai tren di kalangan anak muda.
"Stres bukan identitas diri atau sesuatu yang keren untuk diikuti. Ini adalah kondisi psikologis yang nyata dan berpotensi sangat serius jika diabaikan," ujar Yolanda, lulusan Psikologi Universitas Mercu Buana, Minggu (20/4).
Menurutnya, banyak remaja yang merasa takut untuk mengungkapkan kondisi mental mereka karena khawatir dicap lemah. “Padahal, keberanian untuk mencari bantuan itu adalah kekuatan. Psikolog dan konselor ada untuk membantu, bukan menghakimi,” tegasnya.
Stres yang dibiarkan tanpa penanganan dapat berkembang menjadi gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Dalam kasus ekstrem, hal ini bahkan dapat mendorong individu pada pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.
Yolanda menekankan perlunya peningkatan literasi kesehatan mental, terutama di kalangan remaja dan lingkungan terdekat mereka. Ia mendorong keluarga, sekolah, dan komunitas untuk membentuk ekosistem yang mendukung kesehatan mental anak muda.
“Kita harus menciptakan ruang aman di mana remaja bisa berbagi cerita tanpa takut dihakimi, serta menyediakan akses yang mudah ke layanan bantuan profesional,” jelas Yolanda.
Ia juga mengingatkan bahwa anggapan yang menormalisasi stres sebagai bagian dari gaya hidup justru berisiko menutupi kebutuhan untuk intervensi dini.
“Hanya karena umum terjadi, bukan berarti stres bisa dianggap biasa. Setiap individu berhak untuk merasa tenang dan sehat, secara mental maupun fisik,” tambahnya.
Dengan dukungan yang tepat, Yolanda percaya para remaja bisa melewati masa sulit mereka dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh. "Namun untuk itu, diperlukan kesadaran kolektif bahwa kesehatan mental bukan tabu, melainkan prioritas," pungkasnya. (nda)
Editor : Hanif