PONTIANAK POST - Tradisi makan saprahan dinilai bukan sekadar budaya warisan, tetapi juga sarana efektif untuk memperkuat nilai kebersamaan dan komunikasi sosial antarwarga. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang, Kartiyus, dan Sultan Sintang, Raden Barrie Danu Brata, dalam sebuah pertemuan budaya yang digelar di Pendopo Bupati Sintang, Kamis (15/5).
Kartiyus meuturkan makan saprahan merupakan tradisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat dan masih relevan sebagai simbol solidaritas.
“Ini bukan hanya soal makan bersama, tapi soal merawat kebersamaan. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?," ujar Kartiyus.
Ia juga menambahkan bahwa praktik serupa sebenarnya ditemukan dalam berbagai budaya lokal lain.
“Di kalangan masyarakat Dayak pun ada tradisi makan bersama, walau penyebutannya berbeda. Esensinya tetap kebersamaan dan gotong royong,” lanjutnya.
Senada dengan itu, Sultan Sintang Raden Barrie Danu Brata menjelaskan bahwa tradisi ini memiliki struktur yang menggambarkan keragaman sosial masyarakat. “Makan saprahan itu terbagi dua: untuk para tokoh disebut saprah agung, sementara untuk masyarakat umum disebut saprah anak negeri,” jelasnya.
Menurut Sultan, momen saprahan tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga fungsi sosial yang penting.
“Lewat saprahan, ada ruang bagi semua golongan untuk duduk bersama, berkomunikasi tanpa sekat, dan merayakan kebersamaan. Ini bisa jadi cara sederhana, tapi sangat efektif mempererat hubungan sosial,” ucapnya.
Ia juga mendorong agar makan saprahan terus dilakukan dalam berbagai acara, baik formal maupun nonformal, sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
“Tradisi ini bisa menjadi jembatan di tengah banyaknya perbedaan. Kita butuh lebih banyak ruang seperti ini di masyarakat,” tambahnya.
Beberapa tokoh masyarakat dan budayawan lokal turut mengapresiasi pandangan tersebut. Mereka menilai makan saprahan sebagai contoh praktik budaya yang tak hanya perlu dilestarikan, tapi juga dikontekstualisasikan dalam kehidupan modern.
Dengan dukungan dari pemerintah daerah dan tokoh adat, makan saprahan diharapkan bisa menjadi model pelestarian budaya yang relevan, inklusif, dan tetap hidup di tengah dinamika sosial Kota Sintang. (nda)
Editor : Hanif