PONTIANAK POST - Minat baca masyarakat Indonesia dinilai masih sangat rendah. Hal ini diungkapkan oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang, Subendi, yang menyebut bahwa hanya satu dari seribu orang Indonesia yang memiliki kebiasaan membaca.
“Data dari UNESCO menunjukkan bahwa minat baca kita baru mencapai 0,001 persen. Artinya, dari seribu orang Indonesia, hanya satu yang rajin membaca,” ujar Subendi dalam keterangannya pada Rabu (21/5), di sela kegiatan Lomba Bercerita Tingkat Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah di Kabupaten Sintang.
Menurut Subendi, di tengah derasnya arus informasi di era digital saat ini, kemampuan literasi menjadi faktor penting yang menentukan kualitas sumber daya manusia. Ia menekankan bahwa keterlambatan dalam membangun budaya baca akan berujung pada ketertinggalan dalam penguasaan ilmu pengetahuan.
“Kalau kita lengah, maka kita akan tertinggal jauh oleh teman-teman lain yang terus berpacu menggali ilmu,” tegasnya.
Subendi menyebutkan bahwa rendahnya minat baca disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari keterbatasan akses terhadap bahan bacaan, penggunaan media sosial yang berlebihan, hingga minimnya kebiasaan membaca di rumah dan lingkungan sekitar.
“Ini bukan hanya pekerjaan pemerintah, tapi juga tanggung jawab bersama—keluarga, masyarakat, dan semua pemangku kepentingan,” tambahnya.
Ia juga mengaitkan pentingnya peningkatan minat baca dengan program prioritas Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tahun 2025–2029, terutama dalam hal penguatan budaya baca dan pelestarian naskah nusantara.
“Kegiatan seperti lomba bercerita ini menjadi salah satu cara untuk menanamkan kebiasaan membaca dan menulis sejak dini. Ini mendukung langsung peningkatan kecakapan literasi,” jelas Subendi.
Lebih jauh, ia berharap kegiatan ini mampu membangun karakter anak, menumbuhkan keberanian, serta mempersiapkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan bermartabat.
“Kalaupun kalah dalam lomba, jangan putus asa. Yang penting semangat belajar dan membaca tetap terjaga,” pungkasnya. (nda)
Editor : Hanif