PONTIANAK POST – Gawai bukan sekadar perayaan panen, melainkan simbol syukur, gotong royong, dan jati diri. Itulah pesan yang disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Toni, saat membuka perayaan Gawai Dayak di Dusun Sabang Laja dan Dusun Luit Jaya, Desa Merpak, Kecamatan Kelam Permai, Sabtu (28/6).
Dalam sambutannya, Toni mengajak masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi Gawai sebagai wujud syukur atas hasil panen serta sebagai ruang memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat. “Musim berladang sudah selesai, dan hasil panen itulah rezeki dari Jubata. Gawai ini menjadi cara kita untuk bersyukur,” kata Toni.
Perayaan Gawai kali ini dihadiri Camat Kelam Permai Kusmara Amijaya, Kepala Desa Merpak, para kepala dusun, tokoh adat, dan ratusan warga. Suasana penuh kekeluargaan mengiringi berbagai kegiatan adat dan jamuan yang mencerminkan semangat gotong royong.
Lebih dari seremoni budaya, menurut Toni, Gawai juga berfungsi sebagai perekat sosial. Tradisi saling mengunjungi, berbagi cerita masa tanam, hingga menyuguhkan makanan dan tuak menjadi simbol kuat dari semangat kebersamaan. “Ini waktu yang tepat untuk bersantai dari rutinitas ladang, menjalin silaturahmi, dan bersiap menyambut musim tanam berikutnya,” ujarnya.
Sebagai wakil rakyat dari Dapil 3 (Kelam Permai, Dedai, dan Sungai Tebelian), Toni menekankan pentingnya merawat budaya lokal agar tak terkikis zaman. Ia mendorong generasi muda untuk terus menjadikan Gawai sebagai bagian dari identitas Dayak. “Meski tak semua orang lagi berladang, Gawai tetap penting. Ia ruang silaturahmi, pelestarian adat, dan pengingat jati diri kita,” tegasnya.
Menurutnya, perayaan Gawai di Desa Merpak menjadi cermin semangat masyarakat dalam menjaga warisan leluhur. Di tengah arus modernisasi, budaya Dayak terus hidup, tak hanya sebagai tradisi, tapi sebagai fondasi kehidupan bersama. (nda)
Editor : Hanif