PONTIANAK POST - Warga Desa Emparu Baru, Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang kembali melaksanakan Gawai Dayak sebagai bentuk syukur atas panen. Namun di balik perayaan ini, tersembunyi nilai-nilai adat yang jauh lebih dalam dari sekadar pesta tahunan. Gawai yang digelar tahun ini mengusung semangat Penyelapat Taun, sebuah ritual meninggalkan tahun lama dan menyambut tahun baru dengan harapan hasil ladang yang lebih baik.
“Penyelapat Taun berarti meninggalkan tahun lama menuju tahun baru. Supaya dalam berladang kita mendapat banyak padi,” kata Tipas, Ketua Panitia Gawai tahun ini, Senin (30/6). Tipas menegaskan bahwa esensi dari Gawai bukanlah pesta pora, melainkan bagian dari proses spiritual masyarakat Dayak. “Kalau hanya berkumpul dan berpesta, itu bukan Gawai. Itu hanya keramaian biasa. Gawai itu ada konteksnya, yaitu Ngelapat Taun,” ujarnya.
Satu di antara ritual penting dalam tradisi Gawai, yakni Ngamik Semengat Padi, tahun ini tidak diselenggarakan. Namun, menurut Tipas, hal itu bukan suatu kewajiban yang harus selalu dilakukan saat Gawai. “Ngamik Semengat Padi bisa dilaksanakan kapan saja, yang penting sebelum kita membuka lahan. Bisa di musim gawai, bisa juga tidak,” jelasnya.
Menariknya, Tipas mencatat adanya perkembangan dalam pelaksanaan tradisi. Ia menyebutkan bahwa anak-anak muda kini menunjukkan ketertarikan yang lebih besar terhadap budaya nenek moyang mereka. “Saya lihat kegiatan adat ini mulai berkembang lagi. Sekitar sepuluh tahun lalu, hampir tidak ada. Tapi sekarang, anak muda justru datang sendiri ingin belajar. Bukan karena disuruh,” ungkap Tipas.
Pada malam pembukaan, upacara ditandai dengan pembacaan sampi, yakni mantra adat untuk membuka Tuak Petara. Setelah pembacaan, semua yang hadir di rumah adat diwajibkan meminum tuak sebagai simbol keterikatan dengan leluhur dan alam. Gawai Dayak di Desa Emparu Baru tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga cermin bagaimana nilai-nilai tradisi tetap hidup dan tumbuh di tengah perubahan zaman. (nda)
Editor : Hanif