PONTIANAK POST — Pelaksanaan Gawai Sub Suku Dayak Desa di Desa Mangat Baru, Kecamatan Dedai, bukan hanya ajang pesta budaya, melainkan ruang penting untuk meneguhkan kembali nilai-nilai adat, tradisi, dan etika sosial.
Wakil Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sintang, Toni, menyerukan kepada seluruh masyarakat agar merawat warisan budaya leluhur serta menjaga ketertiban selama perayaan berlangsung.
Dalam sambutannya di hadapan masyarakat dan tokoh adat, Toni menegaskan bahwa Gawai bukan sekadar ajang hiburan, tetapi merupakan bagian dari siklus hidup masyarakat Dayak yang sangat terkait dengan aktivitas berladang.
“Gawai ini bukan soal senang-senang semata. Ini adalah bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah, setelah proses panjang dari membuka lahan hingga panen,” ujarnya, Jumat (4/7).
Menurutnya, tradisi Gawai yang diwariskan turun-temurun mengandung makna kebersamaan dan penghormatan terhadap alam serta leluhur. Gawai menjadi simbol syukur dan refleksi spiritual atas rezeki yang diterima masyarakat adat.
“Nenek moyang kita mengajarkan untuk tidak lupa bersyukur, dan Gawai adalah bentuk konkret dari nilai itu. Kita merayakan bukan karena berlebih, tapi karena menghargai hasil kerja keras bersama,” tambahnya.
Toni juga menyoroti pentingnya menjaga suasana damai selama gawai berlangsung. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak menciptakan konflik atau keributan yang bisa merusak esensi acara.
“Pesan saya sederhana: jangan ribut, jangan buat kegaduhan. Gawai ini harus dinikmati dalam suasana santai, penuh persaudaraan, sebagai pengingat sebelum kita kembali memulai siklus berladang tahun berikutnya,” tegasnya.
Ia berharap semua pelaksanaan Gawai di Kabupaten Sintang, baik di tingkat desa maupun sub suku, dapat berlangsung aman, tertib, dan menggembirakan. Menurut Toni, kemeriahan bukan tolok ukur utama keberhasilan, melainkan bagaimana nilai dan etika adat tetap dijunjung tinggi.
“Gawai yang berhasil bukan hanya yang ramai dan meriah, tapi juga yang menjaga martabat adat dan meninggalkan kesan positif di hati masyarakat,” ungkapnya. Gawai di Desa Mangat Baru menjadi bukti bahwa di tengah gempuran modernitas, tradisi masih tumbuh dan dihargai. Sebuah pengingat bahwa identitas budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus terus dirawat dan diwariskan. (nda)
Editor : Miftahul Khair