PONTIANAK POST – Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala, menghadiri misa khusus bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), PPPK, dan tenaga honorer beragama Katolik di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sintang. Misa digelar di Gereja Katedral Kristus Raja dan dipimpin langsung oleh Uskup Sintang, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFM. Cap., Sabtu (12/7).
Kegiatan yang dihadiri kepala OPD dan ratusan pegawai ini menjadi momentum pembinaan rohani sekaligus penguatan nilai integritas dalam dunia birokrasi. Dalam sambutannya, Bupati Bala menekankan pentingnya spiritualitas sebagai landasan moral dalam melayani masyarakat. “ASN harus tetap profesional dalam bekerja dan tulus dalam melayani. Jangan licik seperti ular, tetapi bijak dan tulus seperti merpati,” pesan Bala, mengutip nilai-nilai Injili.
Ia juga menyatakan dukungannya terhadap wacana pelaksanaan retret khusus bagi ASN Katolik. “Saya pernah ikut retret saat masih muda. Itu penting untuk mengingatkan kembali identitas kita sebagai abdi negara,” tambahnya.
Sementara itu, Uskup Samuel dalam homilinya menekankan bahwa ASN Katolik harus hadir sebagai garam dan terang di lingkungan kerjanya. Menurutnya, pelayanan publik bukan sekadar rutinitas administratif, tetapi panggilan hidup. “Kalian dipanggil untuk menjadi teladan, berdisiplin, bertanggung jawab, dan bekerja dengan dedikasi serta ketulusan,” ujar Uskup. “Jangan andalkan kekuatan sendiri. Dengarkan suara hati dan bisikan Tuhan. Bangunlah kebersamaan dan saling dukung satu sama lain.”
Komunitas ASN Katolik Pemkab Sintang yang dibentuk sejak 2016 menjadi wadah refleksi rohani bagi para pegawai Katolik. Ketua komunitas, Witarso, menyebutkan bahwa kegiatan seperti misa rutin, retret, dan aksi sosial rutin dilaksanakan untuk menjaga keseimbangan antara kerja dan nilai spiritual. “Kami rutin misa bersama dan melakukan kegiatan sosial, seperti berbagi kasih dengan Seminari Menengah Menyurai dan para suster,” ungkap Witarso, Minggu (13/7).
Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara kinerja teknis dan kesadaran moral sebagai pelayan masyarakat. “Kalau hubungan seseorang dengan Tuhan baik, biasanya tercermin juga dalam cara ia bekerja dan memperlakukan orang lain,” tambahnya.
Menurutnya, nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan ketulusan tak bisa hanya dibentuk lewat regulasi, melainkan harus tumbuh dari kesadaran spiritual yang sehat. “Refleksi bersama dalam suasana religius menjadi ruang yang memungkinkan ASN merenungkan kembali peran mereka sebagai pelayan publik.”
Kegiatan semacam ini dianggap sebagai pembentuk karakter ASN yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual. Di tengah tekanan dan kompleksitas sistem birokrasi, spiritualitas menjadi penopang agar orientasi pelayanan tetap teguh pada kepentingan rakyat. “ASN juga manusia biasa yang butuh penguatan batin agar tidak kehilangan arah dalam melayani. Karena itu, kami ingin gerakan seperti ini terus dipertahankan bahkan diperluas,” pungkas Witarso. (nda)
Editor : Hanif