Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Stunting di Sintang Tertinggi di Kalbar, Dinas Kesehatan Dorong Penanganan Terpadu

Riska Nanda Kumala Sari • Kamis, 21 Agustus 2025 | 13:22 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

PONTIANAK POST– Angka stunting di Kabupaten Sintang terus melonjak tajam dan kini menjadi yang tertinggi di Kalimantan Barat. Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDI) mencatat prevalensi stunting di Sintang mencapai 31 persen pada 2024, naik dari 24,8 persen di 2023 dan 18,7 persen pada 2022.

Kepala Dinas Kesehatan Sintang, Edi Harmaeni, menegaskan kondisi ini harus segera ditangani dengan langkah terukur. “Stunting bukan sekadar soal tinggi badan, tetapi menyangkut pertumbuhan otak, perkembangan mental, dan masa depan anak. Jika kita tidak bertindak cepat, dampaknya bisa terasa sepanjang hidup mereka,” ujarnya, Rabu (20/8).

Menurut Edi, strategi penanganan dilakukan melalui dua pendekatan: intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik ditujukan pada kelompok prioritas seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia 0–23 bulan, dengan langkah berupa deteksi dini, pemberian terapi, edukasi gizi, konseling, hingga stimulasi perkembangan anak.

Namun, ia menekankan Dinas Kesehatan tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi lintas sektor mutlak diperlukan agar pencegahan dan penanganan stunting berjalan efektif. “Keberadaan tenaga kesehatan di lapangan, terutama bidan, sangat penting. Mereka adalah garda terdepan karena paling dekat dengan masyarakat,” tambahnya.

Salah satu dukungan nyata adalah hadirnya Gedung Tumbuh Kembang Anak yang dikelola Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Sintang. Gedung ini dirancang sebagai pusat layanan sekaligus sarana edukasi masyarakat tentang gizi dan tumbuh kembang anak.

“Kami merencanakan gedung ini akan dihibahkan kepada PC IBI Sintang agar mereka semakin kuat dalam mendukung penanganan stunting,” ungkap Edi. Dengan prevalensi yang sudah menembus 30 persen, Dinas Kesehatan menargetkan melalui langkah kolaboratif angka stunting dapat ditekan secara bertahap, sehingga Sintang tidak lagi menjadi daerah dengan kasus tertinggi di Kalimantan Barat. (nda)

 

Editor : Hanif
#Lintas Sektor #Kolaborasi #Tertinggi di Kalbar #sintang #stunting #dinkes #Percepatan Penanganan