PONTIANAK POST – Peringatan hari jadi ke-17 Museum Kapuas Raya Sintang tahun ini menjadi momentum penting bagi pelestarian budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif lokal. Pada pameran bertajuk “Walking with Museum”, kain tating tenun tradisional khas Dayak Desa menjadi pusat perhatian pengunjung dan masyarakat.
Pameran yang berlangsung pada 10–14 Oktober 2025 di Museum Kapuas Raya, Jalan Sintang–Putussibau KM 14, menampilkan beragam karya budaya yang mencerminkan kekayaan warisan leluhur. Kain tating dikenal sebagai busana adat perempuan Dayak Desa berupa kain kebat atau pantang yang dihiasi untaian koin (tating duit), manik-manik, serta kerincingan (tating marik) di bagian bawahnya.
Wakil Bupati Sintang, Florensius Ronny, menegaskan kegiatan ini bukan sekadar ajang pameran, melainkan upaya nyata pemerintah daerah mengembangkan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. “Lebih dari sekadar pameran, kegiatan ini adalah bagian dari misi Kabupaten Sintang untuk menumbuhkan ekonomi kreatif. Seni, budaya, dan karya lokal seperti kain tating perlu terus ditampilkan agar menjadi sumber inspirasi sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk berkarya dan berdaya,” ujarnya, Jumat (10/10).
Ronny menambahkan, museum seharusnya tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi sebagai ruang interaktif yang menghidupkan kreativitas masyarakat. “Pameran ini menghadirkan ruang pertemuan antara sejarah, seni, dan kreativitas. Museum bukan hanya tempat menyimpan koleksi, melainkan ruang hidup yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Sintang yang berbudaya serta berdaya saing,” tegasnya.
Ia berharap generasi muda semakin mengenal kekayaan budaya daerah dan melihat potensi ekonomi di dalamnya. “Pameran kain tating ini diharapkan menjadi langkah nyata memperkuat identitas budaya serta menumbuhkan semangat wirausaha kreatif di Sintang,” tutup Ronny. (nda)
Editor : Hanif