PONTIANAK POST – Pantun kembali mendapat perhatian serius di Kabupaten Sintang. Melalui workshop yang digelar di Rumah Adat Melayu Tepak Sireh, para pemerhati budaya membahas bagaimana tradisi pantun dapat diperkuat sebagai identitas budaya sekaligus dimanfaatkan dalam pendidikan dan ekonomi kreatif.
Staf Ahli Bupati Sintang Bidang Perekonomian, Pembangunan, dan Keuangan, Helmi, menegaskan bahwa pantun bukan sekadar karya lisan, melainkan medium pendidikan yang memiliki fungsi strategis. Ia mendorong agar penguatan pantun dilakukan di sekolah maupun di ruang-ruang kreatif masyarakat.
“Pantun adalah warisan yang hidup. Ia harus terus dirawat, berkembang, dan memberi inspirasi bagi generasi yang akan datang,” ujar Helmi, Kamis (11/12).
Helmi menjelaskan bahwa pantun berpotensi dikembangkan sebagai muatan lokal, kegiatan ekstrakurikuler, hingga materi penguatan karakter di sekolah. Selain itu, pantun juga memiliki nilai ekonomi apabila dikelola secara kreatif. Menurutnya, literasi budaya dapat membuka peluang usaha berbasis konten budaya. “Pantun tidak hanya mengajarkan kesantunan berbahasa, tetapi juga dapat menjadi bagian dari industri kreatif yang bernilai,” katanya.
Workshop tersebut digagas oleh Dewan Pimpinan Daerah Majelis Adat Budaya Melayu Kabupaten Sintang sebagai rangkaian peringatan Hari Pantun Nasional dan Hari Pantun Dunia. Tahun ini, tema yang diusung adalah “Pantun Budaya Bangsa, Jaga Syair, Jaga Pusaka”, yang menekankan pentingnya menjaga tradisi lisan sebagai kekayaan intelektual masyarakat Melayu.
Berbagai tokoh adat, tokoh masyarakat, budayawan, seniman, hingga penyair turut hadir dan berdiskusi mengenai posisi pantun di tengah arus modernisasi. Helmi menegaskan bahwa pantun memiliki daya adaptasi kuat, sehingga dapat terus eksis di berbagai platform media baru.
“Pantun bisa masuk ke dunia digital, tampil dalam konten kreatif, dan tetap tidak kehilangan ruhnya,” tutupnya. (nda)
Editor : Hanif