PONTIANAK POST - Pemerintah Kabupaten Sintang menargetkan perluasan lahan dan peningkatan produksi jagung melalui keterlibatan aktif seluruh desa. Wakil Bupati Sintang Florensius Ronny menegaskan, pengembangan jagung tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus terhubung dengan sektor peternakan agar tercipta siklus ekonomi desa yang berkelanjutan.
Menurut Ronny, selama ini budidaya jagung di Sintang menghadapi sejumlah kendala, mulai dari ekosistem tanam yang belum optimal, harga yang kurang menguntungkan, distribusi hasil panen, hingga keterbatasan pengetahuan masyarakat.
“Satu hektare jagung membutuhkan biaya sekitar Rp25 hingga 30 juta, dari pembukaan lahan sampai panen. Kalau tidak dikelola dalam satu ekosistem yang jelas, petani akan kesulitan,” ujar Ronny, Rabu (28/1).
Ia mencontohkan pola yang sudah berjalan di Desa Mapan Jaya, Kecamatan Kayan Hulu, di mana budidaya jagung dikelola oleh BUMDes dan terintegrasi dengan peternakan ayam. Jagung yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Baca Juga: PGRI Kapuas Hulu Tolak Pegawai SPPG Jadi PPPK, Desak Kebijakan Pendapatan Minimum Guru
“Contoh ini menunjukkan bahwa jagung bisa menjadi bagian dari sistem yang saling menguatkan antara pertanian dan peternakan,” kata Ronny.
Pemkab Sintang, lanjutnya, mengarahkan setiap desa untuk melakukan inovasi sesuai potensi wilayah masing-masing. Kerja sama dengan peternak ayam skala menengah dan besar dinilai penting agar hasil panen memiliki pasar yang jelas.
“Kalau masalahnya ada di distribusi, pemerintah daerah siap membantu, termasuk melalui subsidi biaya angkut hasil panen dari desa ke kabupaten,” jelasnya.
Ronny juga menekankan pemanfaatan Dana Alokasi Desa (ADD) untuk mendukung program ketahanan pangan. Setiap desa diminta mengalokasikan anggaran sekitar Rp10–15 juta yang difokuskan pada budidaya jagung.
“Selama ini kebutuhan jagung untuk pakan ternak di Sintang masih dipasok dari luar daerah. Ke depan, kita ingin kebutuhan itu dipenuhi dari produksi desa-desa sendiri,” ungkap Ronny.
Baca Juga: Bupati Sintang Tekankan Inovasi untuk Menghadapi Tantangan Fiskal Kalimantan Barat
Dengan pola terintegrasi antara jagung dan peternakan, Pemkab Sintang berharap ketahanan pangan desa meningkat, biaya produksi peternak dapat ditekan, serta perputaran ekonomi lokal menjadi lebih kuat dan mandiri. (nda)
Editor : Hanif