Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

KLB Rabies di Sintang Belum Dicabut, Kasus Gigitan Masih Tinggi

Riska Nanda Kumala Sari • Selasa, 10 Februari 2026 | 14:10 WIB
kondisi penularan rabies di Kabupaten Sintang dinilai belum memenuhi syarat untuk dicabut.
kondisi penularan rabies di Kabupaten Sintang dinilai belum memenuhi syarat untuk dicabut.

 

PONTIANAK POST - Status kejadian luar biasa (KLB) rabies di Kabupaten Sintang masih berlaku karena kondisi penularan dinilai belum memenuhi syarat untuk dicabut.

"Kami menilai tren kasus gigitan hewan penular rabies masih tinggi sehingga pengawasan dan penanganan tetap harus diperketat," ujar Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Rosa Trifina, Senin (9/2).

Ia menjelaskan bahwa surat keputusan bupati mengenai penetapan KLB rabies yang diterbitkan sebelumnya tetap menjadi dasar penanganan hingga situasi benar-benar terkendali. Menurutnya, indikator epidemiologis menunjukkan risiko penularan masih ada di sejumlah wilayah.

“Status KLB belum dicabut karena kondisi rabies saat ini belum memenuhi syarat untuk dihentikan,” tutur Rosa.

Data lintas sektor menunjukkan kasus gigitan masih terjadi dalam jumlah besar. Pelaksana Tugas Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sintang, Eka Dahliana, menyebut rabies merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia melalui gigitan maupun jilatan. Penularan tersebut berpotensi fatal jika tidak segera ditangani.

“Pada tahun 2025 tercatat 717 kasus gigitan, dan pada awal 2026 sudah ada 107 kasus. Angka tertinggi berada di Kecamatan Tempunak, Ketungau Hulu, dan Sepauk,” jelas Eka.

Ia menambahkan, hasil pemeriksaan laboratorium juga mengonfirmasi adanya kasus positif rabies pada hewan. “Empat sampel dinyatakan positif rabies berdasarkan uji laboratorium,” terangnya

Keterbatasan sumber daya manusia menjadi salah satu tantangan dalam pengendalian penyakit ini. Eka menyebut layanan kesehatan hewan saat ini didukung oleh tiga dokter hewan dan satu staf fungsional veteriner yang menangani wilayah cukup luas. "Namun upaya vaksinasi, edukasi masyarakat, serta pelacakan kasus terus dilakukan secara berkelanjutan," tutur Eka.

Di tengah tingginya laporan gigitan, pemerintah daerah mencatat belum ada kasus kematian akibat rabies. Kondisi ini dinilai sebagai hasil respons cepat pelayanan kesehatan dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis setelah gigitan terjadi. “Meskipun kasus gigitan tinggi, hingga kini belum ada kematian akibat rabies,” tutup Eka. (nda)

Editor : Hanif
#status #rabies #penularan rabies #waspada rabies #Kasus Gigitan Hewan