PONTIANAK POST - Krisis distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah timur Kalimantan Barat membuka persoalan mendasar pada rantai pasok energi yang selama ini bergantung pada jalur sungai. Pendangkalan Sungai Melawi membuat kapal tanker tidak lagi dapat bersandar di Depot Sintang, sehingga distribusi dialihkan sepenuhnya ke jalur darat.
PT Pertamina Patra Niaga memastikan pengiriman kini dilakukan dari Integrated Terminal Pontianak menggunakan 70 hingga 80 unit mobil tangki. Armada tersebut melayani rute ke Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi hingga Putussibau.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan Pertamina Patra Niaga, Edi Mangun, menyebut perubahan ini tidak bisa dihindari.
“Jika draft kapal sudah tidak terpenuhi, kapal sudah tidak bisa masuk dan bersandar di Depot Sintang. Hal ini menyangkut aspek keselamatan,” ujarnya di Sintang, Rabu (18/2) lalu.
Pengalihan moda angkut berdampak langsung pada waktu distribusi. Jika pengiriman normal Pontianak-Sintang memerlukan 7 hingga 8 jam, perjalanan mobil tangki dengan muatan penuh bisa mencapai 15 jam. Perpanjangan durasi tersebut memicu keterlambatan suplai di sejumlah SPBU dan menimbulkan antrean kendaraan.
Seluruh kebutuhan BBM di kawasan timur Kalbar kini bertumpu pada jalur darat. Kondisi ini meningkatkan beban logistik sekaligus risiko operasional di lapangan.
“Tetapi kami tetap mengirim pasokan secara rutin dari Pontianak supaya kebutuhan masyarakat tidak terganggu,” kata Edi.
Untuk mengurangi tekanan distribusi, perusahaan memaksimalkan jadwal kosong di jalur lain serta menjajaki kemungkinan titik suplai alternatif yang lebih dekat dengan Sintang.
"Koordinasi dilakukan bersama pemerintah daerah hingga tingkat provinsi guna mencari solusi jangka menengah," tuturnya.
Di tengah situasi tersebut, prosedur keselamatan tetap dijalankan ketat. Setiap sopir menjalani pemeriksaan kesehatan harian sebelum bertugas. Bila kondisi tidak memenuhi syarat, pengemudi diganti.
"Setiap mobil tangki juga diisi dua Awak Mobil Tangki (AMT) guna memastikan perjalanan aman sesuai standar operasional," jelasnya.
Perubahan rantai pasok ini memperlihatkan kerentanan distribusi energi di wilayah pedalaman yang sangat bergantung pada kondisi geografis. Hingga jalur sungai kembali memungkinkan, distribusi darat menjadi tumpuan utama pemenuhan kebutuhan BBM masyarakat di timur Kalimantan Barat. (nda)
Editor : Hanif