Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pelita Ngeleman Terangi Sudut Kota Sintang hingga Malam Takbiran

Riska Nanda Kumala Sari • Sabtu, 14 Maret 2026 | 14:57 WIB

Festival Ngeleman resmi digelar kembali dan siap menerangi setiap sudut Kota Sintang dengan cahaya pelita hingga malam takbiran.
Festival Ngeleman resmi digelar kembali dan siap menerangi setiap sudut Kota Sintang dengan cahaya pelita hingga malam takbiran.

PONTANAK POST - Cahaya pelita kembali menghiasi berbagai sudut Kota Sintang melalui Festival Ngeleman yang digelar sepanjang Ramadan. Tradisi khas masyarakat Melayu Sintang ini resmi dimulai pada Jumat (13/3) malam, bertepatan dengan 23 Ramadan, dan akan berlangsung hingga malam takbiran.

Festival yang telah menjadi agenda budaya tahunan tersebut menampilkan hiasan pelita di sejumlah lingkungan permukiman. Warga menghias halaman rumah, gang, hingga kawasan masjid dengan lampu-lampu minyak yang disusun membentuk berbagai pola, menciptakan suasana Ramadan yang khas dan sarat makna.

Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Sintang, Abdurani, mengatakan festival tahun ini diikuti oleh sembilan peserta yang berasal dari kelompok masjid serta perwakilan RT dan RW di sejumlah kelurahan dan desa di Kecamatan Sintang.

“Kita mengapresiasi masyarakat yang masih semangat meramaikan festival yang sudah menjadi tradisi adat budaya Melayu Sintang ini,” kata Abdurani.

Ia menjelaskan, tradisi ngeleman berasal dari kata keleman dalam bahasa Melayu Sintang yang berarti pelita. Sejak dahulu, masyarakat menggunakan pelita sebagai penerang di malam hari, terutama pada bulan Ramadan. Seiring waktu, kebiasaan tersebut berkembang menjadi tradisi budaya yang dirayakan secara bersama-sama.

Menurut Abdurani, festival ini tidak sekadar menghadirkan keindahan cahaya pelita, tetapi juga mengandung nilai-nilai keislaman yang kuat. Ngeleman menjadi simbol kebersamaan masyarakat dalam menyambut malam-malam Ramadan hingga menjelang Idulfitri.

“Ini adalah tradisi turun-temurun yang terus kita jaga. Selain memperindah lingkungan, festival ini juga memperkuat identitas budaya Melayu di Sintang,” tuturnya.

Selama festival berlangsung, masyarakat dapat mengunjungi berbagai lokasi yang dipenuhi dekorasi pelita. Beberapa peserta bahkan menata pelita membentuk tulisan, ornamen, hingga miniatur bangunan yang menarik perhatian warga.

Penyelenggara akan melakukan penilaian terhadap setiap peserta selama rangkaian kegiatan berlangsung. Pengumuman pemenang sekaligus pembagian hadiah direncanakan dilaksanakan pada puncak acara malam takbiran.

Abdurani berharap melalui festival ini, masyarakat diharapkan tetap menjaga dan merawat tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Kehadiran ratusan pelita yang menyala di malam Ramadan menjadi pengingat bahwa warisan budaya lokal masih hidup di tengah masyarakat Sintang dan terus dijaga sebagai bagian dari identitas daerah. (nda)

Editor : Miftahul Khair
#tradisi melayu #sintang #Festival Ngeleman #Malam takbiran #Pelita #lebaran #Ramadan 2026