PONTIANAK POST - Kesiapan jemaah dalam memahami rangkaian ibadah haji menjadi faktor krusial yang menentukan kelancaran pelaksanaan di tanah suci. Minimnya pemahaman dikhawatirkan dapat berdampak pada terlewatnya tahapan penting, bahkan berisiko pada keselamatan jemaah selama menjalankan ibadah.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Sintang, Koliq, menekankan bahwa manasik bukan sekadar formalitas, melainkan bekal utama yang harus diikuti dengan sungguh-sungguh oleh setiap calon jemaah. Menurutnya, pemahaman yang utuh terhadap tata cara ibadah akan membantu jemaah menjalankan setiap rangkaian dengan tertib dan sesuai ketentuan.
“Jika pemahaman kurang, ada kemungkinan tahapan ibadah tidak dijalankan secara lengkap. Ini tentu akan berpengaruh pada kesempurnaan ibadah itu sendiri,” ujar Koliq di Sintang kemarin.
Ia juga mengingatkan bahwa ibadah haji memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi, baik dari sisi ritual maupun kondisi fisik di lapangan. Oleh karena itu, selain kesiapan pengetahuan, kondisi kesehatan jemaah juga harus menjadi perhatian utama sejak sebelum keberangkatan.
“Kesehatan tidak bisa dianggap sepele. Jemaah harus menjaga kondisi tubuh agar tetap prima, karena aktivitas selama haji cukup padat dan menguras tenaga,” tutur Koliq.
Lebih lanjut, Koliq menyebutkan bahwa berbagai kondisi di Tanah Suci, seperti cuaca ekstrem dan kepadatan jemaah, menuntut kesiapan fisik dan mental yang baik. Tanpa itu, jemaah berisiko mengalami kendala yang dapat menghambat pelaksanaan ibadah.
Ia menilai, manasik haji menjadi ruang penting untuk memberikan pemahaman menyeluruh, mulai dari tata cara ibadah, simulasi pelaksanaan, hingga antisipasi berbagai situasi yang mungkin dihadapi jemaah.
“Keselamatan harus menjadi prioritas. Jangan sampai karena kurang persiapan, justru menimbulkan risiko yang tidak diinginkan,” tukasnya. (nda)
Editor : Hanif