PONTIANAK POST - Kebutuhan layanan kesehatan lintas negara menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Sintang seiring meningkatnya jumlah warga yang berobat ke luar negeri. Hal ini mengemuka dalam pertemuan antara Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala, dengan manajemen Normah Medical Specialist Center dari Kuching, Sarawak.
Pertemuan tersebut menyoroti peluang kerja sama di bidang kesehatan, khususnya dalam memberikan kemudahan akses bagi pasien asal Sintang yang menjalani pengobatan di Malaysia. Bala menilai hubungan geografis dan kedekatan budaya menjadi modal penting dalam membangun kolaborasi yang lebih konkret.
“Perkenalan ini penting karena kita masih memiliki kedekatan bahasa dan budaya. Kami berharap hubungan ini tidak hanya formal, tetapi benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Bala, Rabu (15/4).
Bala juga meminta agar pasien asal Sintang yang dirujuk atau berobat ke Normah Medical Specialist Center dapat memperoleh kemudahan, terutama dalam kondisi darurat atau keterbatasan biaya.
“Kalau ada warga kami yang belum memungkinkan untuk pulang karena kondisi atau biaya, kami berharap bisa dibantu hingga sembuh,” ungkap Bala.
Menurut Bala, akses layanan kesehatan yang memadai masih menjadi tantangan di daerah. Meski RSUD Ade M Djoen telah berkembang sebagai rumah sakit rujukan, keterbatasan alat dan layanan tertentu membuat sebagian pasien memilih berobat ke luar negeri.
“Rumah sakit kami sudah cukup besar, tetapi memang masih ada keterbatasan. Karena itu, kerja sama seperti ini menjadi penting,” tambahnya.
Sementara itu, Deputi Business Development and Corporate Affairs Normah Medical Specialist Center, Bidari Muhammad Suhaili, menegaskan bahwa kunjungan itu bertujuan memperkuat hubungan kemanusiaan, bukan semata-mata bisnis.
“Kami milik pemerintah Sarawak, sehingga ada misi sosial yang kami jalankan. Kami pernah merawat pasien dari Indonesia yang mengalami keterbatasan biaya, dan tetap kami tangani sampai sembuh,” jelasnya.
Ia juga memastikan pihaknya tidak memposisikan diri sebagai pesaing fasilitas kesehatan di Kalimantan Barat, melainkan sebagai mitra dalam pelayanan kemanusiaan.
“Kami tidak bersaing, tetapi ingin saling membantu. Semua peralatan kami disiapkan pemerintah, sehingga kami punya tanggung jawab untuk menolong,” tuturnya.
Kerja sama ini diharapkan dapat membuka akses layanan kesehatan yang lebih luas bagi masyarakat Sintang, sekaligus menjadi langkah awal integrasi pelayanan kesehatan lintas batas di kawasan perbatasan. (nda)
Editor : Hanif