Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Tujuh Jam Taklukkan Bukit Kelam, Anak Muda Pontianak Bangga Jelajahi Monolit Raksasa Sintang

Riska Nanda Kumala Sari • Jumat, 22 Mei 2026 | 14:00 WIB
Sensasi mendaki tebing batu di ketinggian 1002 mdpl merupakan trek ekslusif yang hanya ada di jalur pendakian Bukit Kelam, Kabupaten Sintang. (ISTIMEWA)
Sensasi mendaki tebing batu di ketinggian 1002 mdpl merupakan trek ekslusif yang hanya ada di jalur pendakian Bukit Kelam, Kabupaten Sintang. (ISTIMEWA)

PONTIANAK POST - Langkah demi langkah menyusuri anak tangga serta trek berbatu untuk menuju puncak Bukit Kelam menjadi pengalaman yang tak mudah dilupakan bagi enam anak muda asal Pontianak. Dengan membawa semangat dan rasa penasaran, mereka rela menempuh perjalanan panjang demi menikmati salah satu ikon wisata alam paling terkenal di Kalimantan Barat.

Fachry Chairul Azzam (17) dan Flora Adelia (20) bersama empat rekannya memulai perjalanan darat dari Pontianak menuju Kabupaten Sintang. Setelah menempuh waktu sekitar tujuh hingga delapan jam perjalanan, mereka tiba di kawasan wisata Bukit Kelam yang berada di Kecamatan Kelam Permai, sekitar satu jam dari pusat Kota Sintang.

Rasa lelah selama perjalanan terbayar ketika mereka mulai menapaki jalur pendakian. Bukit Kelam bukan gunung biasa. Tempat ini dikenal sebagai monolit atau batu utuh raksasa tertinggi di dunia dengan ketinggian mencapai 1.002 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jalur menuju puncaknya didominasi anak tangga besi dan batu, lengkap dengan alat pengaman berupa pegangan besi hingga tali pengaman di beberapa titik yang cukup terjal.

“Sebagai anak Kalbar, kami merasa wajib datang ke sini. Selama ini cuma lihat di media sosial dan dengar cerita orang kalau Bukit Kelam terkenal sampai luar negeri. Rasanya penasaran sekali,” ujar Fachry, Rabu (20/5).

Baca Juga: Bupati Sintang Imbau Warga Waspadai Hoaks dan Utamakan Musyawarah Jaga Kondusivitas

Meski terlihat menantang, perjalanan menuju puncak justru menjadi pengalaman berharga bagi mereka. Pendakian yang dimulai pukul 13.00 WIB baru mencapai puncak sekitar pukul 20.00 WIB. Tujuh jam perjalanan bahkan bisa lebih, tergantung kondisi fisik dan cuaca di jalur pendakian.

“Rasanya bangga sekali punya tempat seperti Bukit Kelam. Ini bukan cuma indah, tapi luar biasa karena dikenal sampai internasional. Alamnya masih asri, udaranya segar, dan semua yang ada di sini harus terus dilestarikan supaya generasi berikutnya juga bisa menikmatinya,” tuturnya.

Menurutnya, rasa lelah akibat jalur menanjak dan medan yang cukup terjal seolah hilang saat panorama dari atas mulai terlihat. Hamparan hijau hutan Kalimantan dan permukiman warga tampak membentang dari ketinggian.

Sementara itu, Flora Adelia juga mengaku kepuasan mendaki Bukit Kelam sulit digambarkan. Baginya, tantangan jalur yang curam justru menjadi bagian paling berkesan dari perjalanan tersebut.

“Capek pasti ada, apalagi beberapa titik cukup tinggi dan harus hati-hati. Tapi justru rasa puasnya terasa sekali ketika sampai puncak. Pemandangannya benar-benar indah,” katanya.

Baca Juga: Pemkab Sintang Libatkan Guru Promosikan Destinasi Wisata Lewat Konten Media Sosial

Selain menawarkan keindahan, Bukit Kelam juga menerapkan aturan ketat menjaga lingkungan. Setiap pendaki diwajibkan membawa turun sampah bawaan mereka untuk diperiksa dan dihitung oleh petugas sebagai syarat sebelum meninggalkan kawasan wisata.

“Aturan seperti ini bagus supaya semua orang ikut menjaga kebersihan. Jangan cuma datang menikmati alam, tapi juga ikut merawatnya,” ungkapnya.

Bagi Fachry dan rekan-rekannya, perjalanan ke Bukit Kelam bukan sekadar soal mencapai puncak, melainkan tentang menyadari bahwa keindahan alam Kalimantan Barat adalah kebanggaan yang harus dijaga bersama. (nda)

Editor : Hanif
#monolit raksasa #bukit kelam #sintang #kalbar #anak muda