Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Gawai Dayak Teluk Kelansam Jadi Wadah Syukur dan Pelestarian Budaya Serta Lingkungan di Sintang

Riska Nanda Kumala Sari • Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15 WIB
Pelestarian budaya Dayak di tengah arus modernisasi menjadi perhatian penting dalam pelaksanaan Gawai Dayak Nasrani I Paroki Santo Mikhael Tanjung Baung dan Gawai Dayak V Desa Teluk Kelansam.
Pelestarian budaya Dayak di tengah arus modernisasi menjadi perhatian penting dalam pelaksanaan Gawai Dayak Nasrani I Paroki Santo Mikhael Tanjung Baung dan Gawai Dayak V Desa Teluk Kelansam.

PONTIANAK POST - Pelestarian budaya Dayak di tengah arus modernisasi menjadi perhatian penting dalam pelaksanaan Gawai Dayak Nasrani I Paroki Santo Mikhael Tanjung Baung dan Gawai Dayak V Desa Teluk Kelansam. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi wadah ungkapan syukur masyarakat, tetapi juga sarana memperkuat identitas budaya serta membangun kesadaran menjaga lingkungan.

Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala, menilai pelaksanaan gawai memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar perayaan tahunan. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga warisan leluhur sekaligus mempererat hubungan sosial di tengah perubahan zaman.

“Saya bahagia melihat umat masih memiliki semangat untuk menjaga budaya dan adat istiadat. Siapa lagi yang akan menjaganya kalau bukan kita sendiri. Budaya dan tradisi ini adalah identitas dan warisan leluhur yang harus terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi muda,” ujar Bala saat menghadiri pembukaan gawai di Teluk Kelansam, Senin (15/6).

Baca Juga: Astra Motor Kalbar Asah Kompetensi Layanan Lewat Technical Skill Contest 2026

Ia menilai tema yang diangkat pada tahun ini, yakni Berjalan Bersama Merawat Iman dan Keutuhan Ciptaan, mencerminkan tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini. Selain memperkuat nilai keagamaan dan persaudaraan, masyarakat juga didorong untuk memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Menurut Bala, menjaga keutuhan ciptaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Dayak yang sejak lama memiliki hubungan erat dengan alam. Karena itu, pelestarian budaya dan perlindungan lingkungan perlu berjalan beriringan.

Bala juga mengingatkan bahwa gawai pada hakikatnya merupakan ungkapan rasa syukur atas berbagai berkat yang diterima masyarakat, baik dalam bentuk kesehatan, keselamatan maupun keberhasilan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ia meminta masyarakat tetap bijak dalam merayakannya.

 Baca Juga: Bappeda Sintang Lakukan Verifikasi Renja 2027 pada 47 OPD untuk Sinkronisasi Program dan Anggaran Daerah

“Gawai adalah bentuk syukur atas berkat yang kita terima. Tetapi bersyukur dan berpesta harus disesuaikan dengan kemampuan diri, jangan sampai memaksakan keadaan,” pesannya.

Melalui kegiatan tersebut, Bala berharap masyarakat bisa terus menjaga nilai-nilai budaya Dayak, mempererat solidaritas sosial, serta menumbuhkan komitmen bersama dalam merawat lingkungan sebagai bagian dari warisan yang akan diteruskan kepada generasi mendatang. (nda)

Editor : Hanif
#Gawai Dayak Sintang #Gawai Dayak Nasrani Paroki Santo Mikhael #Budaya Dayak Kalimantan Barat #Keutuhan ciptaan dan lingkungan #Gregorius Herkulanus Bala