PONTIANAK POST – Kesadaran generasi muda terhadap pembangunan berkelanjutan terus digenjot lewat berbagai aksi nyata. Terbaru, Katadata Green menggelar kegiatan sosial edukasi bersama mahasiswa Universitas Kapuas Sintang (UnkaS) untuk membedah potensi besar bioekonomi di Kabupaten Sintang.
Acara interaktif ini menghadirkan dua mentor ahli, yaitu Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sintang, Dedi Irawan, serta perwakilan Forest Wise Sintang, Basri.
Lantas, apa itu bioekonomi dan bagaimana peluangnya bagi anak muda Sintang? Apa Itu Bioekonomi dan Mengapa Sintang Diuntungkan?
Baca Juga: KATADATA Green dan BRIDA Sintang Petakan Bioekonomi, Ungkap Potensi Ekonomi Hijau Bernilai Miliaran
Bagi sebagian orang, istilah bioekonomi mungkin terdengar asing. Secara sederhana, bioekonomi adalah konsep ekonomi yang memanfaatkan sumber daya hayati atau alam secara bijaksana menggunakan teknologi dan inovasi. Hasilnya adalah nilai ekonomi tinggi tanpa merusak kelestarian alam.
Kepala BRIDA Sintang, Dedi Irawan, menegaskan bahwa Sintang sebenarnya berdiri di atas tambang emas hayati.
Sintang memiliki modal kekayaan alam yang luar biasa, mulai dari sektor kehutanan dan perkebunan yang luas, sektor pertanian yang potensial, hingga keanekaragaman hayati atau biodiversitas yang melimpah.
"Potensi Sintang ini sangat besar. Tantangan kita sekarang adalah inovasi. Bagaimana mengelola sumber daya ini secara modern agar bisa menyejahterakan masyarakat sekaligus menjaga alam tetap lestari," ujar Dedi.
Intip Peluang Emas Bioekonomi: Membidik Buah Tengkawang
Dalam sesi diskusi yang berlangsung seru, para mahasiswa diajak memetakan peluang bisnis hijau yang bisa dikembangkan di daerah mereka. Salah satu komoditas lokal asli Kalimantan yang menjadi sorotan utama dalam potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) adalah buah tengkawang.
Buah dari pohon endemik ini memiliki peluang bioekonomi yang luar biasa. Selama ini, biji buah tengkawang dikenal menghasilkan minyak atau lemak nabati berkualitas tinggi yang di dunia internasional populer dengan sebutan "Illipe Butter".
Lemak tengkawang ini bernilai ekonomi tinggi karena menjadi bahan baku premium untuk industri kosmetik global, seperti pembuatan lipstik dan pelembap kulit, serta menjadi pengganti lemak cokelat dalam industri pangan. Menariknya, pemanfaatan buah tengkawang sangat ramah lingkungan karena masyarakat hanya memanen buah yang jatuh tanpa harus menebang pohonnya.
Selain tengkawang, potensi lain yang siap digarap meliputi optimalisasi madu hutan, kerajinan rotan, pemanfaatan bambu, pengembangan tanaman herbal khas daerah untuk kosmetik alami, hingga ekowisata berbasis komunitas.
Saatnya Mahasiswa Jadi Green Entrepreneur
Sementara itu, perwakilan Forest Wise Sintang, Basri, menantang para mahasiswa UnkaS untuk tidak hanya menjadi penonton. Menurutnya, anak muda punya peran strategis melalui riset dan pemanfaatan teknologi untuk menciptakan kewirausahaan berbasis lingkungan atau green entrepreneurship.
"Mahasiswa harus jeli melihat potensi di sekitar mereka sebagai peluang bisnis. Bioekonomi ini membuka ruang yang sangat luas untuk lahirnya inovasi dan usaha baru berbasis kekayaan lokal," kata Basri optimis.
Baca Juga: Kodim 1205/Sintang Tekankan Peran Masyarakat dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan Hidup
Langkah Nyata Hadapi Perubahan Iklim
Perwakilan Katadata Green menjelaskan bahwa edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan literasi pembangunan hijau di kalangan generasi muda. Hal ini krusial dilakukan demi menghadapi tantangan perubahan iklim global.
Melalui kolaborasi ini, mahasiswa UnkaS diharapkan mampu menjadi agen perubahan atau agent of change yang memicu lahirnya berbagai inovasi ramah lingkungan. Langkah ini diharapkan mampu membawa Kabupaten Sintang tumbuh menjadi daerah yang berdaya saing tinggi, inklusif, dan tetap hijau di masa depan. (agg)
Editor : Miftahul Khair