PONTIANAK POST - Tragedi memilukan mengguncang Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat akhir pekan lalu. Seorang ibu muda berinisial SR diduga mengakhiri hidupnya setelah diduga lebih dahulu menghilangkan nyawa dua anaknya di rumah mereka pada Minggu (19/7). Peristiwa ini diduga dipicu persoalan rumah tangga yang berujung pada tekanan psikologis berat yang dialami korban.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, sebelum kejadian korban sempat mengunggah sebuah rekaman suara melalui fitur status WhatsApp. Rekaman berdurasi beberapa menit itu memperlihatkan percakapan antara korban dengan anak sulungnya yang diduga direkam sesaat sebelum peristiwa tragis terjadi.
Dalam rekaman tersebut, korban berulang kali mengungkapkan rasa sakit hati setelah suaminya disebut ingin mencari "mama baru". Anak korban beberapa kali menjawab bahwa dirinya tidak menginginkan ibu pengganti.
"Tadi Bapak bilang katanya mau cari Mama baru," ucap korban dalam rekaman tersebut. Ketika ditanya apakah menginginkan ibu baru, sang anak menjawab, "Enggak, aku mau Mama lama."
Percakapan kemudian berubah semakin emosional. Korban beberapa kali mengungkapkan kesedihannya dan menanyakan kepada anaknya mengenai kemungkinan jika dirinya meninggal dunia.
"Kalau Mama mati gimana loh Bang?" tanya korban. Sang anak menjawab, "Aku mau ikut Mama."
Korban kemudian kembali mengatakan, "Kita mati aja. Enggak ada yang sayang kita." Ucapan itu menjadi bagian yang paling menyita perhatian setelah rekaman tersebut beredar luas di media sosial.
Pada bagian akhir rekaman, korban juga menyampaikan kalimat yang menggambarkan luka batin yang dialaminya. "Hati Mama sakit loh," ucapnya kepada sang anak.
Korban juga terdengar mengatakan bahwa suaminya tidak pernah menyayanginya. Sementara anaknya berusaha menenangkan dengan mengatakan, "Abang yang mau sayang Mama."
Tak lama setelah rekaman tersebut diunggah, korban bersama kedua anaknya ditemukan meninggal dunia di dalam rumah. Peristiwa ini mengundang duka mendalam bagi masyarakat Sintang dan menjadi perhatian luas karena rekaman suara yang ditinggalkan korban.
Pontianak Post belum dapat memverifikasi secara independen waktu perekaman maupun konteks lengkap percakapan tersebut. Hingga berita ini diterbitkan, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk memastikan rangkaian peristiwa dan motif yang melatarbelakangi tragedi tersebut.
Dugaan persoalan perselingkuhan yang memicu tekanan psikologis terhadap korban juga masih didalami sebagai bagian dari proses penyelidikan. Polisi mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi maupun menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi sembari menunggu hasil penyelidikan resmi.
Psikolog maupun praktisi kesehatan mental mengingatkan bahwa tekanan psikologis dapat memiliki penyebab yang kompleks. Karena itu masyarakat diimbau tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan informasi yang beredar di media sosial serta mengedepankan empati terhadap keluarga korban. (nda)
Editor : Miftahul Khair