PONTIANAK POST – Pengakuan suami korban menjadi salah satu kunci dalam mengungkap tragedi meninggalnya seorang ibu berinisial SR bersama dua anaknya di Kecamatan Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang, Minggu (19/7). Pria tersebut mengaku langsung pulang ke rumah setelah menerima sebuah pesan suara atau voice note dari istrinya melalui aplikasi WhatsApp. Namun saat tiba di rumah, ia mendapati istri dan kedua anaknya telah meninggal dunia.
Keterangan itu kini menjadi bagian dari rangkaian penyelidikan yang dilakukan kepolisian. Penyidik masih mencocokkan pengakuan suami dengan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), barang bukti elektronik, pemeriksaan saksi, serta hasil forensik untuk memastikan kronologi dan motif di balik tragedi tersebut.
Pengakuan Suami Menjadi Bagian Penting Penyelidikan
Kapolsek Sungai Tebelian Ipda Aprianus Sabari Tampe mengatakan, berdasarkan keterangan sementara, suami korban saat kejadian sedang berada di luar rumah bersama sejumlah rekannya.
Di tengah aktivitas tersebut, ia menerima sebuah voice note yang dikirim istrinya melalui WhatsApp. Setelah mendengarkan pesan itu, ia segera pulang.
"Suaminya sedang nongkrong bersama teman-temannya. Saat itu dikirimi voice note oleh istrinya. Setelah pesan itu didengar, suaminya pulang ke rumah dan mendapati korban sudah meninggal dunia," ujar Aprianus kepada Pontianak Post, Selasa (21/7).
Polisi menyatakan keterangan tersebut masih terus diverifikasi dengan alat bukti lain yang telah diamankan penyidik.
Rekaman Digital dan Forensik Masih Dianalisis
Selain pesan suara yang dikirim kepada suami korban, penyidik juga mengamankan telepon seluler dan perangkat elektronik lain yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Polisi turut mendalami rekaman suara yang diduga sempat diunggah melalui status WhatsApp sebelum kejadian. Namun, penyidik menegaskan rekaman tersebut tidak dapat dijadikan dasar tunggal untuk menyimpulkan motif.
Menurut Aprianus, seluruh bukti digital akan dianalisis bersamaan dengan hasil pemeriksaan medis forensik dan keterangan para saksi.
Polisi Belum Simpulkan Motif
Hasil olah TKP sementara memang mengarah pada dugaan bunuh diri. Namun polisi menegaskan kesimpulan tersebut masih bersifat sementara.
"Hasil olah TKP sementara memang mengarah ke sana. Tetapi penyelidikan masih berjalan dan kami masih menunggu hasil pemeriksaan lainnya," kata Aprianus.
Penyidik juga mendalami dugaan bahwa kedua anak meninggal lebih dahulu sebelum ibu mereka. Kepastian penyebab kematian masing-masing korban masih menunggu hasil pemeriksaan forensik.
Isu Perselingkuhan Belum Terbukti
Di tengah beredarnya berbagai spekulasi di media sosial, kepolisian memastikan hingga kini belum menemukan fakta yang mengarah pada dugaan perselingkuhan.
"Dugaan perselingkuhan ini belum ada petunjuk lain yang kami peroleh, termasuk dari keterangan saksi maupun pihak keluarga yang sudah kami mintai keterangan. Tidak ada yang mengarah ke sana," tegas Aprianus.
Karena itu, polisi mengimbau masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi agar tidak memperkeruh suasana dan mengganggu proses penyelidikan.
Penyelidikan Masih Berlangsung
Penyidik masih memeriksa anggota keluarga, saksi-saksi, serta seluruh barang bukti untuk menyusun kronologi utuh tragedi tersebut. Secara hukum, penetapan penyebab maupun motif hanya dapat dilakukan berdasarkan alat bukti yang sah sesuai ketentuan Pasal 184 ayat (1) KUHAP.
Sebagai bagian dari upaya pencegahan, masyarakat yang menghadapi tekanan emosional atau konflik keluarga diimbau mencari dukungan dari keluarga, kerabat, tokoh masyarakat, tenaga kesehatan, psikolog, atau layanan konseling yang tersedia, sehingga persoalan dapat ditangani sedini mungkin sebelum berkembang menjadi krisis. **
Catatan Redaksi: Pemberitaan ini bertujuan memberikan informasi kepada publik mengenai proses penyelidikan yang dilakukan aparat penegak hukum, bukan untuk membenarkan, menganjurkan, atau mempromosikan tindakan bunuh diri maupun kekerasan. Penyebab dan motif dalam kasus ini masih didalami kepolisian berdasarkan alat bukti yang sah. Jika Anda atau orang terdekat sedang mengalami tekanan emosional, konflik keluarga, atau merasa putus asa, jangan hadapi sendiri. Carilah bantuan kepada keluarga, sahabat, tokoh yang dipercaya, psikolog, tenaga kesehatan, atau layanan konseling dan kesehatan jiwa terdekat.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro