Abdul Kadir, Pahlawan dari Tanah Sintang yang Satukan Dayak dan Melayu Melawan Belanda

Silvina • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 14:46 WIB
Abdul Kadir, pahlawan dari tanah Sintang dan rekam jejak bersejarahnya. (DOK PONTIANAK POST)
Abdul Kadir, pahlawan dari tanah Sintang dan biodatanya. (DOK PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST – Setiap daerah di Indonesia memiliki kisah perjuangan yang membentuk perjalanan bangsa. Di Kalimantan Barat, salah satu nama yang menjadi simbol keberanian dan persatuan adalah Abdul Kadir gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan, tokoh yang tidak hanya melawan penjajahan Belanda, tetapi juga berhasil menyatukan kekuatan rakyat Melawi.

Sosok Abdul Kadir dikenal sebagai pemimpin yang memiliki strategi perjuangan kuat. Perjuangannya bukan hanya melalui peperangan, tetapi juga lewat kemampuan membangun persatuan di tengah masyarakat yang sebelumnya mengalami konflik.

Berdasarkan tayangan sejarah yang dipublikasikan melalui kanal YouTube @provkalbar.official, Abdul Kadir disebut sebagai salah satu tokoh besar Kalimantan Barat yang memiliki peran penting dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Kisahnya menjadi bagian dari sejarah panjang perjuangan rakyat Kalbar mempertahankan tanah kelahirannya.

Baca Juga: Mengenal Husein Mutahar, Habib Pencipta Lagu Hari Merdeka, Pendiri Paskibra dan Ajudan Presiden

Pemimpin dari Tanah Sintang

Abdul Kadir lahir pada 1771 dari tanah Sintang. Ia merupakan putra dari Hulu Belang Kerajaan Sintang bernama Urip.

Perjalanan pengabdiannya membawa Abdul Kadir dipercaya memimpin pemerintahan Melawi. Karena kepemimpinannya, ia kemudian dianugerahi gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan oleh Raja Simpang.

Baca Juga: Pencipta Lagu Hari Merdeka Husein Mutahar, Ternyata Pernah Selamatkan Sang Saka Merah Putih

Salah satu jasa besar Abdul Kadir adalah kemampuannya meredakan pertikaian antara suku Dayak dan Melayu yang telah berlangsung lama.

Menyatukan Kekuatan Rakyat Melawan Belanda

Bagi Abdul Kadir, perjuangan melawan penjajah tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga persatuan. Ia menyadari bahwa kekuatan rakyat akan semakin besar jika berbagai kelompok dapat bersatu menghadapi ancaman yang sama.

Baca Juga: Tugu Digulis Simpan Kisah Perjuangan 11 Tokoh Kalbar, Banyak Di Antaranya Berasal dari Ngabang

Persatuan antara masyarakat Dayak dan Melayu kemudian menjadi kekuatan penting dalam menghadapi pengaruh Belanda di wilayah Melawi.

Perlawanan Abdul Kadir kemudian dikenal dalam Perang Melawi yang berlangsung pada 1867 hingga 1875.

Strategi Ganda Melawan Penjajah

Baca Juga: Tugu Digulis Pontianak Berusia Puluhan Tahun, Begini Perjalanan Pembangunan hingga Renovasinya

Salah satu sisi menarik dari perjuangan Abdul Kadir adalah strategi politiknya. Di hadapan Belanda, ia terlihat sebagai pejabat yang menjalankan pemerintahan.

Bahkan pada 1866, ia mendapatkan gelar Setia Pahlawan dari pemerintah Belanda. Namun di balik itu, Abdul Kadir diam-diam menyusun kekuatan rakyat untuk menghadapi penjajahan.

Strategi tersebut menunjukkan kecerdasan Abdul Kadir dalam membaca situasi politik saat itu.

Baca Juga: Calon Paskibraka Kabupaten Sintang Mulai Jalani Diklat untuk Membentuk Karakter dan Jiwa Kepemimpinan

Pahlawan yang Gugur di Usia Lebih dari Seabad

Setelah perlawanan besar pada 1875, Abdul Kadir akhirnya ditangkap oleh Belanda. Tiga minggu kemudian, sang pejuang wafat pada usia 104 tahun.

Ia tercatat sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia yang memiliki usia sangat panjang hingga lebih dari satu abad.

Baca Juga: Indonesia Telah Merdeka, Tapi Kabar Proklamasi Baru Tiba di Pontianak Sebulan Kemudian, Ini Kisah Bersejarahnya

Atas jasa dan perjuangannya, Abdul Kadir dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 114/TK Tahun 1999 pada 13 Oktober 1999.

Kisah Abdul Kadir menjadi pengingat bahwa perjuangan mempertahankan bangsa tidak hanya dilakukan dengan kekuatan senjata, tetapi juga melalui persatuan dan kepemimpinan

Editor : Silvina
pahlawan kalbar pahlawan dari sintang melayu dan dayak perlawanan terhadap belanda abdul kadir