PONTIANAK POST - Tercatat sebanyak 658 titik panas atau hotspot yang ada di Kabupaten Sintang sepanjang 1 Januari hingga 27 Juli 2026. Data yang didapat berdasarkan pemantauan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Barat ini, juga mencatat luas indikatif kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah tersebut mencapai 139 hektare. Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI Kalbar Indra Syahnanda mengatakan, jumlah tersebut menjadi bagian dari 17.236 hotspot yang terdeteksi di 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat. Sementara total luas indikatif Karhutla mencapai 28.680 hektare.
“Untuk bulan Agustus sedang dianalisis dan kemungkinan ada kenaikan,” ujar Indra, Selasa (11/8).
Dari jumlah hotspot, Sintang berada di posisi kesembilan di Kalbar. Angkanya sedikit lebih tinggi dibandingkan Kapuas Hulu yang mencatat 651 titik. Ketapang menjadi daerah dengan hotspot terbanyak, yakni 3.715 titik, disusul Kubu Raya 3.096, Mempawah 1.964, Sanggau 1.847, Landak 1.219, Kayong Utara 1.162, Sambas 934 dan Bengkayang 877 titik.
Baca Juga: Kabut Asap Mulai Selimuti Sintang, Kasus ISPA Justru Turun dan Masih Terkendali
"Berbeda dengan jumlah hotspot, luas indikatif Karhutla di Sintang relatif lebih kecil. Dengan 139 hektare, Sintang berada di urutan ke-11. Kontribusinya sekitar 0,48 persen dari total luas indikatif karhutla di Kalbar," jelasnya.
Indra menyebut kondisi tersebut perlu menjadi peringatan dini sebelum memasuki periode kemarau yang lebih panjang. Menurutnya, persoalan Karhutla tidak cukup ditangani setelah kebakaran meluas, tetapi membutuhkan langkah pencegahan sejak munculnya indikasi peningkatan titik panas. (nda)
Editor : Miftakhair