STKIP Melawi Tingkatkan Profesionalisme Guru Matematika melalui Etnomatematika Berbasis RME

Hanif • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:26 WIB
Peserta mengikuti kegiatan pembelajaran dengan penuh antusias dan keseriusan. Melalui proses diskusi, mengerjakan materi, serta berbagi pengalaman, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan kompetensi peserta.
Peserta mengikuti kegiatan pembelajaran dengan penuh antusias dan keseriusan. Melalui proses diskusi, mengerjakan materi, serta berbagi pengalaman, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan kompetensi peserta.

PONTIANAK POST – Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Melawi meningkatkan profesionalisme guru matematika tingkat SMP/MTs di Kabupaten Melawi melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berbasis etnomatematika, Realistic Mathematics Education (RME), dan asesmen autentik.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Mei dan Juni 2026 tersebut mengusung tema “Peningkatan Profesionalisme Guru Matematika melalui Pelatihan Modul Etnomatematika Berbasis RME dan Asesmen Autentik di Kabupaten Melawi.”

Kegiatan ini merupakan bagian dari Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM), Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Pendanaan 2026.

Baca Juga: POLNEP Kenalkan Budidaya Lele Berbasis RAS untuk Perkuat Kemandirian Pangan Siswa SMK

Tim dosen STKIP Melawi diketuai Linda Dwi Saputri, M.Pd., dengan anggota Novika Lestari, M.Pd., dan Mukhlisin, M.Pd. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa STKIP Melawi. Adapun mitra kegiatan adalah guru matematika SMP/MTs yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika SMP/MTs Kabupaten Melawi.

Dalam kegiatan tersebut, para guru mendapatkan materi mengenai konsep dan penerapan modul etnomatematika berbasis RME. Pendekatan ini mendorong guru mengintegrasikan unsur budaya dan kehidupan sehari-hari ke dalam pembelajaran matematika.

Dengan pendekatan tersebut, konsep matematika yang selama ini cenderung dipandang abstrak dapat dikaitkan dengan pengalaman nyata siswa di lingkungan mereka. Guru juga diajak mengidentifikasi berbagai aktivitas budaya dan kehidupan masyarakat Kabupaten Melawi yang memiliki keterkaitan dengan konsep matematika.

Pemanfaatan budaya lokal sebagai sumber belajar diharapkan dapat membuat pembelajaran matematika lebih menarik sekaligus membantu siswa memahami bahwa matematika memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Potensi Kalbar Tak Cukup Dipamerkan, Pemprov Dorong Produk Lokal Jadi Kekuatan Ekonomi

Selain materi etnomatematika, tim dosen STKIP Melawi memberikan pelatihan mengenai asesmen autentik. Para guru dibekali pemahaman bahwa penilaian pembelajaran tidak hanya berorientasi pada kemampuan siswa menjawab soal, tetapi juga mencakup proses belajar, kemampuan menerapkan konsep, keterampilan berpikir, komunikasi, serta kemampuan menyelesaikan permasalahan dalam konteks nyata.

Untuk mendukung pelaksanaan asesmen yang lebih interaktif, peserta juga diperkenalkan dengan platform Wordwall. Dalam sesi praktik, guru dilatih merancang berbagai aktivitas pembelajaran dan instrumen asesmen menggunakan media digital tersebut.

Kegiatan berlangsung interaktif dan partisipatif. Para guru tidak hanya mengikuti pemaparan materi, tetapi juga aktif berdiskusi, bertukar pengalaman, serta melakukan praktik penggunaan modul etnomatematika dan penyusunan asesmen berbantuan Wordwall.

Melalui kegiatan praktik tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk mengembangkan contoh aktivitas pembelajaran matematika yang disesuaikan dengan karakteristik siswa dan lingkungan sekolah masing-masing.

“Pembelajaran matematika tidak harus selalu dimulai dari rumus dan konsep yang abstrak. Melalui etnomatematika berbasis RME, guru dapat mengawali pembelajaran dari situasi yang dekat dengan kehidupan siswa sehingga matematika menjadi lebih bermakna dan mudah dipahami. Guru juga dapat merancang asesmen berdasarkan kehidupan sehari-hari siswa,” ungkap salah satu narasumber dari tim dosen STKIP Melawi.

Sebagai bagian dari evaluasi kegiatan, para guru mengikuti pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pemahaman setelah mengikuti rangkaian kegiatan PkM.

Tim dosen STKIP Melawi berharap program tersebut memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran matematika yang inovatif, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Melalui program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Tahun Anggaran 2026, STKIP Melawi juga terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi bagi masyarakat, khususnya melalui bidang pendidikan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan guru diharapkan terus berkembang sehingga mampu menghasilkan berbagai inovasi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan sekolah serta karakteristik masyarakat Kabupaten Melawi. (ser/pms)

 – Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Melawi meningkatkan profesionalisme guru matematika tingkat SMP/MTs di Kabupaten Melawi melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berbasis etnomatematika, Realistic Mathematics Education (RME), dan asesmen autentik.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Mei dan Juni 2026 tersebut mengusung tema “Peningkatan Profesionalisme Guru Matematika melalui Pelatihan Modul Etnomatematika Berbasis RME dan Asesmen Autentik di Kabupaten Melawi.”

Kegiatan ini merupakan bagian dari Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM), Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Pendanaan 2026.

Tim dosen STKIP Melawi diketuai Linda Dwi Saputri, M.Pd., dengan anggota Novika Lestari, M.Pd., dan Mukhlisin, M.Pd. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa STKIP Melawi. Adapun mitra kegiatan adalah guru matematika SMP/MTs yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika SMP/MTs Kabupaten Melawi.

Dalam kegiatan tersebut, para guru mendapatkan materi mengenai konsep dan penerapan modul etnomatematika berbasis RME. Pendekatan ini mendorong guru mengintegrasikan unsur budaya dan kehidupan sehari-hari ke dalam pembelajaran matematika.

Dengan pendekatan tersebut, konsep matematika yang selama ini cenderung dipandang abstrak dapat dikaitkan dengan pengalaman nyata siswa di lingkungan mereka. Guru juga diajak mengidentifikasi berbagai aktivitas budaya dan kehidupan masyarakat Kabupaten Melawi yang memiliki keterkaitan dengan konsep matematika.

Pemanfaatan budaya lokal sebagai sumber belajar diharapkan dapat membuat pembelajaran matematika lebih menarik sekaligus membantu siswa memahami bahwa matematika memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari.

Selain materi etnomatematika, tim dosen STKIP Melawi memberikan pelatihan mengenai asesmen autentik. Para guru dibekali pemahaman bahwa penilaian pembelajaran tidak hanya berorientasi pada kemampuan siswa menjawab soal, tetapi juga mencakup proses belajar, kemampuan menerapkan konsep, keterampilan berpikir, komunikasi, serta kemampuan menyelesaikan permasalahan dalam konteks nyata.

Untuk mendukung pelaksanaan asesmen yang lebih interaktif, peserta juga diperkenalkan dengan platform Wordwall. Dalam sesi praktik, guru dilatih merancang berbagai aktivitas pembelajaran dan instrumen asesmen menggunakan media digital tersebut.

Kegiatan berlangsung interaktif dan partisipatif. Para guru tidak hanya mengikuti pemaparan materi, tetapi juga aktif berdiskusi, bertukar pengalaman, serta melakukan praktik penggunaan modul etnomatematika dan penyusunan asesmen berbantuan Wordwall.

Melalui kegiatan praktik tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk mengembangkan contoh aktivitas pembelajaran matematika yang disesuaikan dengan karakteristik siswa dan lingkungan sekolah masing-masing.

“Pembelajaran matematika tidak harus selalu dimulai dari rumus dan konsep yang abstrak. Melalui etnomatematika berbasis RME, guru dapat mengawali pembelajaran dari situasi yang dekat dengan kehidupan siswa sehingga matematika menjadi lebih bermakna dan mudah dipahami. Guru juga dapat merancang asesmen berdasarkan kehidupan sehari-hari siswa,” ungkap salah satu narasumber dari tim dosen STKIP Melawi.

Sebagai bagian dari evaluasi kegiatan, para guru mengikuti pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pemahaman setelah mengikuti rangkaian kegiatan PkM.

Tim dosen STKIP Melawi berharap program tersebut memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran matematika yang inovatif, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Melalui program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Tahun Anggaran 2026, STKIP Melawi juga terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi bagi masyarakat, khususnya melalui bidang pendidikan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan guru diharapkan terus berkembang sehingga mampu menghasilkan berbagai inovasi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan sekolah serta karakteristik masyarakat Kabupaten Melawi. (ser/pms)

Editor : Hanif
guru matematika matematika STKIP Melawi pendidikan tinggi PKM