El Nino Berpotensi hingga Akhir 2026, Sintang Waspadai Ancaman Karhutla

Riska Nanda Kumala Sari • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:29 WIB
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Tebelian, Dharmawan Wahyu Adhi menyatakan Kabupaten Sintang telah mengalami tujuh kali gempa sejak 2019 hingga 2026, dengan lima kejadian terjadi hanya dalam tahun ini. (ISTIMEWA)
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Tebelian, Dharmawan Wahyu Adhi menyatakan Kabupaten Sintang telah mengalami tujuh kali gempa sejak 2019 hingga 2026, dengan lima kejadian terjadi hanya dalam tahun ini. (ISTIMEWA)

PONTIANAK POST - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Sintang berpotensi berlangsung hingga akhir 2026. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Nino sangat kuat akan membuat curah hujan tetap rendah dalam beberapa bulan ke depan, sehingga kondisi lahan mudah terbakar.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Tebelian, Dharmawan Wahyu Adhi, mengatakan kondisi tersebut perlu diwaspadai karena puncak kemarau berlangsung pada Juli hingga September 2026. Curah hujan diperkirakan masih sangat rendah hingga September, sementara kondisi mulai membaik pada Oktober.

Menurut dia, hujan masih berpeluang turun pada 14 hingga 16 Agustus 2026. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk mengubah pola kemarau secara signifikan. Pada Oktober, curah hujan diperkirakan mulai kembali normal,“Di Oktober 2026 akan ada hujan, tetapi sangat rendah. Perkiraan curah hujan sampai September 2026 sangat rendah. Oktober 2026 baru curah hujan akan normal.” 

Baca Juga: Aktivis Sebut Tata Kelola Gambut jadi Biang Kerok Kalbar Belum Merdeka dari Kabut Asap

Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Sintang Kusnidar mencatat sejak 20 Januari hingga Agustus 2026 terdapat 13 kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan luas area terbakar mencapai 224 hektare. Penanganan di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan sumber air, akses menuju lokasi kebakaran dan ketersediaan bahan bakar minyak.

“Kendala kami sumber air terbatas, jalan masuk tidak ada dan bahan bakar minyak sulit. Untungnya semua tim kompak dari semua unsur,” kata Kusnidar.

Untuk mengurangi dampak asap, BPBD telah membagikan sekitar 4.000 masker kepada pelajar sekolah dasar dan masyarakat di jalan umum. Kesadaran warga menggunakan masker juga mulai meningkat seiring memburuknya kualitas udara. (nda)

Editor : Hanif
El Nino 2026 curah hujan rendah bmkg karhutla