PONTIANAK POST - Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala mendorong alih fungsi satu terminal khusus di Tayan menjadi terminal umum guna mengurai kemacetan tata niaga kelapa sawit akibat kemarau panjang. Langkah ini dinilai mendesak sebab pendangkalan sungai telah menghentikan angkutan kapal dan memicu penumpukan crude palm oil (CPO) di berbagai tangki penampungan.
Langkah taktis tersebut diusulkan Pemerintah Kabupaten Sintang setelah menggelar rapat koordinasi penetapan bencana kekeringan yang dihadiri jajaran OPD serta BMKG di Pendopo Bupati Sintang.
"Saat ini yang tersedia baru dua terminal. Oleh karena itu, perlu ada penambahan atau satu terminal khusus yang ada di Tayan diubah penggunaannya menjadi terminal umum, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan bongkar muat CPO," ujar Gregorius di Sintang, Senin, dilansir dari Antara.
Baca Juga: Desak OPD Sintang Gerak Cepat Realisasikan APBD Perubahan 2026 Demi Tekan Angka Silpa Akhir Tahun
Dampak kekeringan ekstrem ini membuat persyarat penetapan status darurat terpenuhi seiring pelumpuhan aktivitas pengangkutan minyak sawit mentah dari wilayah perhuluan. Keluhan telah disuarakan oleh seluruh pengelola dari 13 pabrik kelapa sawit (PKS) di Kabupaten Sintang yang kehabisan ruang simpan. Keterbatasan terminal bongkar muat di hilir membuat proses distribusi CPO tersumbat total.
Penumpukan CPO di tangki hilir secara berantai berdampak langsung pada kemampuan pabrik dalam menyerap hasil panen masyarakat.
"Ini salah satu solusi yang harus segera kita dorong. Kalau satu terminal khusus di Tayan bisa diubah menjadi terminal umum, maka kapasitas bongkar muat CPO dapat bertambah. Ini akan membantu mengatasi penumpukan CPO dan pada akhirnya membantu PKS kembali menyerap TBS petani," terang bupati.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sintang Supriyanto menegaskan bahwa penyumbatan ini merata dialami PKS akibat penurunan debit air sungai secara drastis. Tangki penyimpanan CPO di pabrik, terminal, hingga pelabuhan hilir tercatat sudah terisi penuh. Mengingat Pemprov Kalbar telah menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan, Disbunnak menyarankan Pemkab Sintang mengambil langkah serupa untuk mempercepat penanganan logistik.
Baca Juga: Pemkab dan DPRD Sintang Sepakati APBD Perubahan 2026, Selanjutnya Dievaluasi Pemprov Kalbar
Di sisi lain, Stasiun Meteorologi Kelas II Tebelian Sintang memproyeksikan potensi hujan intensitas tinggi baru akan mulai meningkat memasuki Oktober mendatang. Meski hujan diprediksi mulai turun bertahap, BMKG mengimbau daerah tetap waspada terhadap gangguan cuaca ekstrim dan masalah jarak pandang penerbangan yang sempat mengganggu aktivitas Bandara Tebelian sepanjang September (*/bas).
Editor : Miftahul Khair