PONTIANAK POST - Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat penyebaran informasi palsu semakin sulit dikenali. Wajah dan suara seseorang dapat dipalsukan untuk membuat konten meyakinkan, sehingga masyarakat perlu kritis sebelum mempercayai maupun membagikan informasi di media sosial.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sintang, Igor Nugroho mengatakan ancaman disinformasi dan hoaks dapat memengaruhi kualitas ruang publik. Algoritma media sosial juga dapat memperkuat penyebaran konten sensasional dan provokatif.
“Dengan kemajuan teknologi AI saat ini, wajah hingga suara seseorang bisa dengan mudah dipalsukan untuk tujuan penipuan maupun penyebaran hoaks,” ujar Igor, Senin (28/9).
Baca Juga: TBBR Sintang Minta Perladangan Adat Tetap Diakui di Tengah Rencana Perubahan Aturan Lahan
Ia meminta masyarakat, khususnya pelajar, memeriksa informasi yang muncul di media sosial dengan membandingkannya melalui sumber terpercaya.
“Masyarakat dan pelajar harus proaktif melakukan cek fakta mandiri. Prinsipnya, saring sebelum sharing,” katanya.
Igor menyarankan penggunaan situs pemeriksa fakta seperti cekfakta.com dan turnbackhoax.id. Menurutnya, media sosial dapat menjadi sarana edukasi, tetapi juga berpotensi digunakan untuk membangun sentimen kebencian dan menggiring opini.
Ia mengingatkan masyarakat mempertimbangkan dampak sebelum mengunggah atau membagikan konten karena jejak digital dapat bertahan lama.
Baca Juga: Kemarau Panjang Ganggu Jalur Sungai di Sintang, Pemkab Siapkan Mitigasi untuk Warga Pedalaman
“Ruang digital seharusnya dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif dan edukatif, bukan menyebarkan sentimen kebencian,” tutur Igor.
Ketahanan informasi dinilai penting untuk menjaga demokrasi yang sehat agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi palsu maupun konten provokatif. (nda)
Editor : Miftahul Khair