PONTIANAK POST - Samsung kembali menaikkan produksi Galaxy S26 Ultra untuk kedua kalinya secara beruntun pada Mei 2026 setelah permintaan pasar terhadap flagship premium tersebut terus meningkat di berbagai negara.
Lonjakan ini bahkan terjadi saat siklus penjualan smartphone biasanya mulai melambat beberapa bulan setelah peluncuran.
Laporan Sammy Fans mengungkap Samsung kini menargetkan produksi Galaxy S26 Ultra mencapai 1,2 juta hingga 1,3 juta unit sepanjang Mei 2026.
Baca Juga: Rumor Galaxy Z Flip 8! Samsung Siapkan Upgrade Lipat yang Akhirnya Benar-Benar Berguna
Angka tersebut lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya yang hanya berada di kisaran 1 juta hingga 1,1 juta unit.
Sementara itu, model Galaxy S26 standar diproduksi sekitar 1 juta unit dan Galaxy S26 Plus bertahan di angka sekitar 200 ribu unit.
Kenaikan terbesar tetap terjadi pada varian Ultra yang disebut menjadi model paling diminati konsumen global.
Kondisi tersebut dinilai cukup berbeda dibanding pola pasar smartphone premium sebelumnya.
Baca Juga: Samsung Galaxy A55 vs Redmi Note 13 Pro 2026, Duel Sengit Mid-Range yang Paling Worth It Tahun Ini
Samsung disebut berhasil mempertahankan momentum penjualan Galaxy S26 Ultra berkat kombinasi fitur AI baru, peningkatan kamera, serta strategi promosi agresif di berbagai wilayah termasuk Eropa dan Amerika Serikat.
Sebelumnya, Samsung juga dikabarkan memberikan potongan harga hingga 400 Euro atau sekitar Rp7,1 juta untuk Galaxy S26 Ultra di pasar Eropa guna menjaga dominasi penjualan flagship premium dari tekanan kompetitor.
Selain lini flagship, Samsung juga terus memperkuat produksi smartphone kelas menengah.
Perusahaan diperkirakan memproduksi sekitar 5 juta unit Galaxy A17 sepanjang Mei 2026.
Di sisi lain, produksi Galaxy A57 sedikit dikurangi menjadi sekitar 1,3 juta unit, sementara Galaxy A37 diperkirakan mencapai 900 ribu unit.
Sammy Fans menyebut peningkatan produksi Galaxy S26 Ultra menjadi sinyal bahwa Samsung masih melihat permintaan pasar premium berada di level tinggi meski kompetisi dengan Apple dan brand China semakin ketat.(*)
Editor : Budi Miank