PONTIANAK POST - Samsung berhasil mencatat lonjakan penjualan seri Galaxy S26 pada enam pekan pertama peluncurannya.
Namun di balik capaian tersebut, perusahaan asal Korea Selatan itu mulai menghadapi tantangan baru akibat kenaikan harga perangkat yang dinilai semakin membebani konsumen.
Laporan terbaru Counterpoint Research menyebutkan penjualan kumulatif Galaxy S26 meningkat 15 persen dibanding Galaxy S25 pada periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Samsung Galaxy A37 Resmi Naik Harga, Tapi Masih Jadi HP Midrange Paling Diburu Tahun Ini
Bahkan, total penjualan smartphone Samsung secara global turut naik 5 persen di tengah tekanan pasar teknologi dan biaya komponen yang terus membengkak.
Varian paling premium, yakni Galaxy S26 Ultra, disebut menjadi motor utama pertumbuhan tersebut.
Model ini dilaporkan menyumbang sekitar 70 persen total pre-order di sejumlah pasar utama seperti Korea Selatan dan Amerika Serikat berkat fitur eksklusif seperti Privacy Display serta peningkatan Galaxy AI.
Meski begitu, momentum penjualan Samsung mulai menunjukkan perlambatan setelah memasuki pekan keenam.
Baca Juga: Oppo Find X9 Ultra vs Galaxy S26 Ultra, Hasil Adu Kamera Ini Bikin Pengguna Samsung Kaget
Counterpoint mencatat tingkat penjualan mulai tertinggal dibanding performa Galaxy S25 tahun lalu, terutama karena konsumen mulai sensitif terhadap kenaikan harga.
Samsung memang menaikkan harga beberapa model Galaxy S26 di sejumlah wilayah. Untuk model dasar dan varian Plus, harga naik sekitar Rp1,62 juta.
Kenaikan ini disebut dipicu lonjakan harga memori dan tekanan rantai pasok global.
Di sisi lain, Samsung mencoba menyeimbangkan kenaikan harga tersebut dengan peningkatan kapasitas penyimpanan dasar menjadi 256GB, sistem pendingin baru, efisiensi baterai yang lebih baik, hingga pembaruan fitur AI.
Namun sebagian pengamat menilai peningkatan hardware Galaxy S26 tidak terlalu revolusioner dibanding generasi sebelumnya.
Tekanan terhadap Samsung juga datang dari situasi industri semikonduktor global.
Baca Juga: Samsung Galaxy A57 Disebut Raja Mid-Range Baru, Performa Gahar Harga Mulai Rp9 Jutaan
Laporan internal Korea Selatan menyebut divisi perangkat Samsung kini berada dalam kondisi “crisis mode” akibat margin keuntungan yang terus menyusut sementara biaya produksi meningkat drastis.
Fenomena itu diperparah oleh tingginya permintaan chip memori dari industri kecerdasan buatan atau AI.
Kondisi tersebut membuat harga komponen seperti DRAM dan SSD terus melonjak dalam dua tahun terakhir.
Meski demikian, performa awal Galaxy S26 tetap dianggap positif.
Baca Juga: Samsung Galaxy Z Fold 8 Wide Dirumorkan Minus Telephoto, Siap Jadi Kelas Dua?
Samsung dinilai masih memiliki kekuatan besar dari sisi ekosistem, dukungan software jangka panjang, serta reputasi kamera yang konsisten di pasar flagship Android.
Namun, sejumlah analis memperingatkan Samsung perlu menghadirkan inovasi yang lebih signifikan di masa mendatang.
Jika tidak, konsumen bisa mulai merasa membayar lebih mahal hanya untuk peningkatan yang minim dibanding seri sebelumnya.(*)
Editor : Budi Miank