PONTIANAK POST - Apple diperkirakan mempertahankan harga awal iPhone 18 Pro di kisaran Rp17,9 juta saat peluncurannya pada September 2026.
Namun, laporan terbaru menyebut biaya kepemilikan perangkat tersebut berpotensi meningkat karena fitur kecerdasan buatan Apple Intelligence kemungkinan akan terhubung dengan layanan berlangganan berbayar.
Menurut laporan Forbes, strategi tersebut memungkinkan Apple menjaga harga perangkat tetap kompetitif di tengah meningkatnya biaya pengembangan teknologi AI.
Baca Juga: Dibanderol Rp21 Juta, Samsung Galaxy S26 Ultra Tawarkan Paket Premium yang Sulit Ditandingi Rival
Sebagai konsekuensinya, sebagian fitur generatif berbasis cloud dapat diakses melalui model langganan yang memerlukan biaya tambahan selama masa penggunaan perangkat.
Laporan Forbes menyebut Apple saat ini menghadapi kenaikan biaya komponen, terutama memori dan penyimpanan data yang semakin dibutuhkan untuk menjalankan teknologi AI.
Di sisi lain, perusahaan juga harus menanggung biaya operasional server untuk mendukung Private Cloud Compute, sistem komputasi awan yang menjadi bagian dari Apple Intelligence.
"Apple kemungkinan akan menjalankan layanan AI tersebut dengan margin rendah pada tahap awal peluncuran sebelum secara bertahap memulihkan biaya melalui siklus penggunaan perangkat," tulis analis teknologi Forbes, Ewan Spence, dalam laporannya.
Forbes juga menyoroti tren industri yang mulai mengarah pada monetisasi layanan AI premium.
Google melalui Gemini dan Samsung lewat Galaxy AI telah lebih dulu mengembangkan model layanan berbasis fitur tambahan dan promosi berjangka untuk menjaga pertumbuhan pengguna.
Apple disebut berpotensi mengadopsi strategi serupa dengan mengintegrasikan Apple Intelligence ke dalam paket berlangganan Apple One.
Jika diterapkan, pengguna kemungkinan memperoleh masa uji coba gratis sebelum dikenakan biaya bulanan tambahan sekitar Rp245 ribu per bulan untuk mengakses fitur AI secara penuh.
Menurut Forbes, langkah tersebut memungkinkan Apple menjaga harga jual iPhone 18 Pro tetap kompetitif sambil memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp1,6 juta hingga Rp2,4 juta per pelanggan selama tahun pertama penggunaan perangkat.(*)
Editor : Budi Miank