PONTIANAK POST - Samsung bersiap mengambil langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya pada lini ponsel lipatnya.
Melalui Galaxy Z Flip 8 yang diperkirakan meluncur tahun ini, raksasa teknologi asal Korea Selatan itu dikabarkan akan menggunakan dua chipset berbeda dalam satu model perangkat, yakni Exynos 2600 buatan Samsung sendiri dan Snapdragon 8 Elite Gen 5 milik Qualcomm.
Strategi tersebut bukan sekadar soal performa, tetapi juga menjadi pertaruhan besar bagi masa depan divisi semikonduktor Samsung.
Baca Juga: Dibanderol Rp21 Juta, Samsung Galaxy S26 Ultra Tawarkan Paket Premium yang Sulit Ditandingi Rival
Lebih menarik lagi, Galaxy Z Flip 8 disebut akan menjadi smartphone pertama di dunia yang menggunakan prosesor berbasis teknologi 2 nanometer melalui Exynos 2600.
"Galaxy Z Flip 8 menjadi langkah besar Samsung dalam menggabungkan inovasi internal dengan kebutuhan pasar global," kata analis teknologi Roland Hutchinson dikutip dari Geeky Gadgets.
Selama beberapa tahun terakhir, Samsung kerap mendapat kritik terkait performa chipset Exynos yang dianggap belum mampu menyaingi Snapdragon di berbagai pasar utama.
Karena itu, keputusan menghadirkan dua pilihan prosesor dalam satu perangkat dinilai sebagai strategi cerdas sekaligus berisiko tinggi.
Exynos 2600 menjadi sorotan utama karena diproduksi menggunakan teknologi fabrikasi 2 nanometer yang lebih maju dibanding generasi sebelumnya.
Teknologi tersebut diklaim mampu menghadirkan peningkatan kecepatan pemrosesan sekaligus efisiensi daya yang lebih baik sehingga berpotensi memperpanjang daya tahan baterai perangkat.
Di sisi lain, Snapdragon 8 Elite Gen 5 tetap menjadi andalan Qualcomm untuk pasar premium.
Chipset ini dikenal memiliki reputasi kuat dalam performa dan stabilitas, terutama di pasar Amerika Serikat, Kanada, Jepang, dan China.
Bagi Samsung, Galaxy Z Flip 8 bukan sekadar generasi terbaru ponsel lipat.
Perangkat ini menjadi etalase kemampuan teknologi chip buatan sendiri sekaligus tolok ukur apakah investasi besar pada pengembangan prosesor 2 nanometer mampu memberikan hasil sesuai harapan.
Baca Juga: Apple Belum Rilis iPhone Ultra, Samsung Sudah Pangkas Target Penjualan Ponsel Lipat 2026
Keberhasilan Exynos 2600 diyakini akan memperkuat posisi Samsung sebagai salah satu pemimpin industri semikonduktor dunia.
Sebaliknya, jika performanya kembali dipandang kalah dari Snapdragon, langkah Samsung membangun ekosistem chipset mandiri bisa menghadapi tantangan yang lebih berat di masa depan.(*)
Editor : Budi Miank