PONTIANAK POST — Senator Amerika Serikat (AS) Bernie Sanders mendesak raksasa teknologi menghentikan sementara pengembangan AI. Sanders menilai kemampuan kecerdasan buatan kini berkembang semakin cepat hingga berpotensi melampaui kemampuan manusia untuk memahami, memprediksi, dan mengendalikannya.
Desakan tersebut disampaikan Sanders melalui surat kepada CEO OpenAI Sam Altman, CEO Anthropic Dario Amodei, dan CEO Meta Mark Zuckerberg. Surat itu pertama kali dilaporkan Axios dan kemudian dikutip The Guardian pada Senin (10/8).
“Demi kepentingan umat manusia, hentikan sementara pengembangan AI,” tulis Sanders.
Ia memperingatkan bahwa Senat AS dapat mengambil langkah apabila perusahaan teknologi tidak memperlambat pengembangan AI.
Sanders Sebut AI Mencapai Ambang Kritis
Sanders menilai perkembangan AI telah memasuki tahap yang membutuhkan perhatian serius. Menurut dia, kemampuan teknologi tersebut telah melewati batas risiko yang sebelumnya menjadi pertimbangan bagi perusahaan untuk menunda pengembangan model baru sampai sistem pengaman tersedia.
“Batas itu telah tiba. Kemampuan AI mungkin telah mencapai ambang kritis,” tegas Sanders.
Kekhawatiran tersebut berangkat dari pertanyaan mengenai kemampuan manusia mengendalikan sistem AI yang semakin kompleks. Sanders menilai perkembangan teknologi tidak cukup hanya diukur dari seberapa besar manfaat yang dapat dihasilkan, tetapi juga dari kemampuan mengantisipasi dampak buruknya.
Khawatir AI Bisa Digunakan untuk Senjata Biologis
Salah satu kekhawatiran yang disoroti Sanders berkaitan dengan potensi penyalahgunaan AI di bidang biologi. Ia merujuk pada laporan mengenai penggunaan AI dalam pengembangan virus baru.
Menurut Sanders, kemampuan tersebut dapat menjadi ancaman serius apabila jatuh ke tangan pihak yang berniat jahat. Teknologi AI, kata dia, berpotensi membantu pengembangan senjata biologis yang dapat menimbulkan korban dalam jumlah sangat besar.
AI Juga Disebut Mampu Meretas Sistem
Sanders juga menyoroti pengakuan sejumlah perusahaan teknologi mengenai kemampuan model AI mereka dalam melakukan aktivitas peretasan.
OpenAI, Anthropic, dan Meta disebut telah mengembangkan model yang memiliki kemampuan melakukan tugas terkait keamanan siber, termasuk menemukan atau mengeksploitasi kerentanan dalam sistem.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian Sanders karena kemampuan AI dapat digunakan untuk tujuan yang berbeda, tergantung siapa yang mengoperasikannya.
Perdebatan tentang Batas Pengembangan AI
Seruan Sanders memperlihatkan semakin kuatnya perdebatan di AS mengenai batas pengembangan kecerdasan buatan. Di satu sisi, AI terus dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas, penelitian, kesehatan, keamanan, dan berbagai kebutuhan manusia.
Di sisi lain, kemampuan AI yang semakin luas memunculkan pertanyaan mengenai keselamatan, keamanan siber, privasi, pekerjaan, serta potensi penyalahgunaan teknologi.
Perdebatan tersebut pada akhirnya bukan hanya mengenai apakah AI harus dikembangkan atau tidak. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan teknologi berkembang dengan sistem pengamanan dan pengawasan yang mampu mengikuti kecepatannya.
Seruan Moratorium Jadi Alarm bagi Industri Teknologi
Bagi Sanders, persoalan tersebut sudah berada pada tahap yang membutuhkan tindakan politik. Ia meminta perusahaan teknologi tidak hanya mengejar kemampuan model AI baru, tetapi memastikan manusia tetap memiliki kendali terhadap teknologi yang mereka ciptakan.
Seruan untuk menghentikan sementara pengembangan AI juga menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi membawa konsekuensi yang harus dipertimbangkan sejak awal.
Jika kemampuan AI terus berkembang tanpa pengamanan yang memadai, manfaat teknologi tersebut dapat berjalan beriringan dengan risiko yang semakin sulit diprediksi. Karena itu, perdebatan mengenai batas pengembangan AI kini tidak lagi hanya berlangsung di laboratorium perusahaan teknologi, tetapi juga telah masuk ke ruang politik Washington.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro