Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Gedung Mangkrak 8 Lantai RS. Untan, Sudah Habiskan Ratusan Miliar?

Yulfi Asmadi • Kamis, 1 September 2022 | 19:43 WIB
MANGKRAK: Gedung Mangkrak RS Untan ketika terbakar kemarin .  (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)
MANGKRAK: Gedung Mangkrak RS Untan ketika terbakar kemarin . (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)
PONTIANAK - Politisi PDI Perjuangan, Martinus Sudarno mempertanyakan mangkraknya gedung delapan lantai Rumah Sakit Universitas Tanjungpura yang belakangan terbakar hebat. Anggota Komisi I (Hukum dan Pemerintahan) DPRD Provinsi Kalimantan Barat inipun meminta supaya Rektor dan Dekan Universitas Tanjungpura di masa itu bertanggungjawab penuh.

"Justru yang jadi pertanyaan kami adalah, kenapa barang ini bisa mangkrak. Tidak jadi-jadi bertahun-tahun. Sumber dana membangunnya dari mana. Kenapa juga perencanaan tidak sesuai anggaran tersedia dan berdampak mangkrak tidak dapat difungsikan bertahun-tahun," ucapnya Kamis (1/9) di sela-sela aksi demo.

Menurutnya pihak Untan harus menjelaskan alasan mendasar proyek tersebut mangkrak sehingga berdampak tidak dapat difungsikan. Padahal dana dibangun entah berapa miliar besarannya diambil dari pajak masyarakat. "Sangat ironis bangunan mangkrak, tidak berfungsi dan dananya dibangun dari pajak rakyat," ucap dia.

Dia meminta supaya Rektor dan Dekan Fakultas Kedokteran kala itu juga harus bertanggung jawab atas mangkraknya pembangunan. "Mereka (Rektor dan Dekan) harus tanggung jawab. Jangan lepas tangan karena uang sudah mengucur kesitu. Kok dak ditindaklanjuti. Ada masalah apa?," tanya dia.

Martinus meminta aparat penegak hukum melakukan penyelidikan terkait mangkraknya gedung RS Untan tersebut. Sebab kabarnya bangunan ini juga sudah pernah diselidiki beberapa waktu belakangan, tetapi publik di Kalbar belum tahu hasilnya. "Nah, jika ada bentuk penyimpangan, aparat penegak hukum harus masuk kesana dan buka," ucap dia.

Berdasarkan penelurusan Pontianak Post bahwa Pembangunan Gedung Rumah Sakit Pendidikan Untan dengan bangunan 8 lantai di laman lpse.untan.ac.id dibangun dengan dana tidak kecil. Didapat informasi bahwa tahapan pengerjaan proyek dimulai dari tahun 2012. Kabarnya dana yang dipakai mencapai ratusan miliar. Bahkan diduga total anggarannya mencapai Rp136 miliar. Sumbernya APBN lewat Kementerian Riset dan Perguruan Tinggi.

Sementara, Ketua Komisi V DPRD Kalbar, Heri Mustamin juga menyayangkan mangkraknya pembangunan gedung delapan lantai itu. Masalahnya, gedung tersebut sebelumnya digadang-gadang sebagai penunjang pelayanan kesehatan masyarakat Kalbar. "Artinya saya prihatin dan sedikit kecewa dengan tidak terlaksana pembangunan gedung yang menjadi penunjang kesehatan masyarakat," ucapnya.

Politisi Golkar itu tersebut tidak mau berspekulasi terkait penyebab kebakaran. Tapi Ia mendorong kepolisian menyelidiki secara mendalam penyebab kebakaran yang belakangan memunculkan spekulasi berkaitan gedung mangkrak. "Cuman untuk masalah kebakaran bukan kapasitas saya menanggapi. Ada aparat berwenang. Kebakaran bisa disebabkan karena faktor cuaca dan lahan itu juga gambut," ucapnya.

Sebelumnya, Mantan Rektor Untan Prof Dr Thamrin Usman DEA angkat bicara terkait kebakaran di lahan belakang RS Untan. Bangunan yang menjulang tinggi tersebut memang dibangun pada masa kepemimpinannya. Dia menyebut kebakaran yang terjadi tidak akan berpengaruh terhadap kekuatan, bentuk, dan kemiringan bangunan.

“Bangunan tersebut beton dan besi semua. Belum ada barang apa-apa di bangunan kosong tersebut. Yang terbakar adalah lahan gambutnya, yang dipicu oleh pembakaran sampah-sampah yang mudah terbakar,” kata dia.

Guru besar kimia ini menjelaskan, panas kebakaran yang terjadi tidak akan berimbas terhadap kekuatan tulang besi dan beton. “Titik leleh besi itu di atas 1000 derajat celcius. Sedangkan kebakaran seperti itu suhunya seratusan derajat saja,” jelas dia.

Pondasi bangunan pun kata dia sangat aman. Pasalnya tanah gambut di lahan tersebut maksimal hanya setebal 2 meter saja. Sedangkan tiang pancang menancap ke dalam tanah jauh lebih dalam daripada itu, sehingga mustahil bila ada yang menyebut gedung itu miring.

“Saya tidak khawatir dengan kekuatan dan kepresisian bangunan. Jadi kalau ada yang bilang bangunan miring, itu bagaimana cara melihat atau menghitungnya,” sebutnya.

Soal asap hasil kebakaran yang mengebul, Thamrin mengatakan asap tebal dan pekat adalah hasil dari pembakaran yang tidak sempurna. Lantaran beberapa hari ini Pontianak diguyur hujan, sehingga tanah menjadi basah dan lembab, karena masih terkandung air.
“Pembakaran yang sempurna akan menyebabkan nyala api yang kuat. Sedangkan pembakaran tak sempurna asapnya tebal dan gelap. Makanya banyak yang sesak napas,” jelas dia.

Soal mangkraknya pembangunan gedung tersebut, Thamrin menyebut berdasarkan mendapat informasi yang didapatkannya, akan dilanjutkan. Namun tidak lagi di bawah Kemendikbud, melainkan diambil alih oleh Kementerian PUPR. Rektor Prof Dr Garuda Wiko sudah berkonsultasi dengannya terkait kelanjutan pembangunan ini.

Informasi yang dia dapatkan, bahwa tim monitoring kementerian akan datang untuk melihat gedung tersebut. Kemudian dilakukanlah pembersihan sampah-sampah di sekitar bangunan tersebut. Namun celakanya, sampah tersebut dibakar di sekitar bangunan, yang mana merupakan tanah gambut.

“Lahan itu gambut perawan. Sebelumnya tidak pernah ada bangunan apa-apa. Jadi mudah api dari permukaan merembet ke bawah. Jadilah kebakaran lahan gambut. Menurut saya ini human error saja,” sebutnya. (den) Editor : Yulfi Asmadi
#Sudah Habiskan #8 Lantai #Gedung Mangkrak #RS Untan #Ratusan Miliar ?