PONTIANAK POST – Peradaban Cina merupakan salah satu kebudayaan tertua di muka bumi yang telah berjalan sejak zaman prasejarah di pinggiran Sungai Kuning. Rekam jejak tertulisnya bahkan telah ditemukan pada artefak tempurung kura-kura sejak era Dinasti Shang sekitar 1600 Sebelum Masehi (SM). Saking panjangnya linimasa peradaban ini, sistem kehidupan sosial, pengobatan, penanggalan, hingga urusan tata ruang bangunan terbukti telah berkembang jauh lebih awal.
Salah satu produk sains dan tata ruang kuno yang masih sangat relevan serta diadopsi secara masif oleh industri properti modern hari ini adalah fengshui (atau feng shui). Menariknya, jika dibedah secara mendalam, aturan-aturan tata ruang yang berusia ribuan tahun ini bukan sekadar mitos atau kepercayaan mistis belaka, melainkan memiliki penjelasan logis dan korelasi nyata dengan arsitektur dunia nyata.
Asal-usul Sejarah: Dari Simbol Akal Sehat Hingga Tata Ruang Istana
Secara historis, akar pemikiran fengshui tercatat paling mapan dimulai pada era Warring State (Zaman Negara-Negara Berperang), sebuah fase kekacauan politik sebelum Cina disatukan oleh Kaisar Qin Shi Huangdi. Meskipun dilanda perang, era ini menjadi zaman keemasan bagi perkembangan filsafat kuno, termasuk lahirnya ajaran Konfusianisme.
Pada masa itu, ilmu penataan ini belum disebut fengshui, melainkan Kan Yu, yang secara harfiah berarti "Surga dan Bumi". Istilah fengshui sendiri baru populer pada abad ke-2 Masehi di era Dinasti Jin. Secara literal, feng berarti angin dan shui berarti air. Filosofi kuno ini mempelajari hukum alam dan aliran energi (chi) untuk mencapai keselarasan hidup manusia.
Baca Juga: Panduan Lengkap Menata Ruang Kerja Berdasarkan Fengshui Kuno: Bikin Bisnis Makin Maju!
Fakta Menarik Tradisi Kuno: Pada awalnya, fengshui digunakan secara ketat untuk menentukan lokasi makam leluhur sebagai bentuk penghormatan tinggi yang dipercaya membawa kemakmuran bagi garis keturunan. Namun, dalam perkembangannya hingga era modern, konsep ini bertransformasi menjadi dasar penataan arsitektur bangunan komersial maupun hunian.
Salah satu implementasi fengshui paling monumental di dunia adalah kompleks istana Forbidden City (Kota Terlarang) di Beijing. Kompleks ini dirancang menggunakan konsep San Shui (Gunung dan Air), di mana istana sengaja dibangun menghadap ke selatan dengan gunung buatan di sisi utara (belakang istana) serta parit atau sungai buatan di bagian depan.
Analisis Logis Aturan Fengshui vs Realita Dunia Properti
Sebuah kebudayaan yang mampu bertahan ribuan tahun tanpa pudar menandakan bahwa nilai-nilai di dalamnya masih sangat relevan dengan realita kehidupan. Melalui tayangan edukasi tata ruang properti di kanal YouTube, berikut adalah pembuktian logika ilmiah di balik aturan fengshui yang sering kita temui sehari-hari:
1. Aturan Hadap Selatan vs Arah Matahari
-
Teori Fengshui: Istana dan hunian terbaik harus menghadap ke selatan karena melambangkan kekuatan matahari, kehangatan, dan energi penguasa. Sebaliknya, arah barat dianggap paling tidak ideal.
-
Logika Realita: Di Cina, angin dingin yang ekstrem berembus dari arah utara (Siberia). Adanya gunung di belakang (utara) dan bangunan yang menghadap ke selatan berfungsi sebagai benteng alami untuk memecah angin dingin tersebut. Dalam industri properti modern saat ini, rumah hadap barat adalah yang paling murah karena cenderung panas, sementara hadap selatan menjadi yang paling mahal karena posisinya paling adem, sehingga mampu menghemat pengeluaran biaya listrik (penggunaan AC).
Baca Juga: Daya Tarik Properti Hadap Selatan: Rumah Tetap Terang Tanpa Silau Matahari Pagi
2. Dilema Rumah Tusuk Sate: Buruk untuk Hunian, Juara untuk Ruko
-
Teori Fengshui: Jalan lurus yang langsung menghantam rumah tusuk sate memicu aliran energi jahat yang tajam (Sha Chi atau panah beracun). Aliran energi yang terlalu plong dan kencang ini tidak sempat mengendap di dalam rumah, sehingga bisa memicu emosi, masalah kesehatan, hingga rezeki yang bablas bagi penghuninya.
-
Logika Realita: Untuk hunian tinggal, posisi tusuk sate sangat tidak disarankan karena memiliki risiko keamanan yang tinggi, seperti rawan hantaman kendaraan yang remnya blong dari jalur lurus. Selain itu, sorotan lampu utama mobil di malam hari akan langsung menembus ke dalam rumah, sehingga mengganggu kenyamanan istirahat.
-
Pengecualian untuk Bisnis: Sebaliknya, jika posisi tusuk sate digunakan untuk Rumah Toko (Ruko), nilainya akan melonjak drastis. Tempat usaha membutuhkan perputaran energi yang deras. Secara bisnis, ruko tusuk sate memiliki tingkat visibilitas (visibility) dan kesadaran merek (brand awareness) yang sangat tinggi karena posisinya langsung terlihat oleh pengendara dari kejauhan sebelum mereka berbelok di pertigaan. Energi deras ini biasanya dijinakkan secara estetis dengan menempatkan akuarium, tanaman, atau memiringkan sedikit posisi pintu masuk utama.
Baca Juga: Benarkah Fengshui Bisa Bikin Kaya? Ini Penjelasan Logis dari Pakar Metafisika Kuno
3. Larangan Berdagang di Bawah Flyover (Jembatan Layang)
-
Teori Fengshui: Getaran udara akibat laju kendaraan di atas jembatan layang atau jalur kereta layang diibaratkan sebagai panah-panah gelap yang memotong bangunan, sehingga membuyarkan sirkulasi rezeki di dalam toko.
-
Logika Realita: Berbisnis di bawah flyover secara visual sangat merugikan karena ruko menjadi tertutup, sehingga memangkas jarak pandang calon konsumen. Selain itu, area tersebut cenderung bising, memiliki polusi debu yang sangat tinggi, serta minim akses parkir yang nyaman.
4. Menghindari Hunian di Bawah Sutet (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi)
-
Teori Fengshui: Bentangan kabel melintang di atas rumah dipercaya membelah dan menghalangi energi positif lingkungan, serta mengacaukan medan magnet bumi yang ingin diselaraskan dengan energi tubuh manusia.
-
Logika Realita: Berbagai riset kesehatan menunjukkan bahwa tinggal terlalu dekat dengan radiasi medan elektromagnetik tinggi kurang baik bagi kesehatan jangka panjang. Selain itu, terdapat faktor risiko keamanan fisik seperti bahaya kabel putus atau korsleting saat cuaca ekstrem.
Kesimpulan
Apakah fengshui itu mitos atau fakta? Pada akhirnya, fengshui adalah akumulasi dari kecerdasan arsitektural, manajemen risiko, dan ilmu titen (observasi lingkungan) masyarakat Tiongkok kuno yang dikemas dalam istilah metafisika agar lebih mudah dipatuhi pada zamannya. Aturan penataan seperti larangan memasang cermin menghadap kasur (agar tidak mengejutkan diri sendiri saat bangun tidur) hingga larangan pintu depan sejajar lurus dengan pintu belakang (agar sirkulasi udara tidak langsung bablas keluar) semuanya bermuara pada satu tujuan: kenyamanan, keamanan, dan kesehatan para penghuninya.(*)
Editor : Rafael B. Junior