
PONTIANAK POST – Idul Fitri menjadi momen paling dinanti umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan.
Hari raya ini tidak hanya identik dengan kemenangan, tetapi juga menjadi simbol kembalinya manusia kepada fitrahh, kesucian jiwa dan hati.
Namun, di tengah beragam tradisi Lebaran modern yang kian berkembang, penting untuk menelusuri kembali bagaimana Rasulullah Shalallahu’alaihiwasallam dan para sahabat merayakan Idul Fitri. Apakah sama dengan praktik yang dilakukan umat Islam saat ini?
Berdasarkan berbagai sumber kitab klasik Islam, perayaan Idul Fitri di masa Rasulullah berlangsung sederhana, namun sarat nilai spiritual dan sosial.
Makna Idul Fitri dalam Perspektif Islam
Secara bahasa, Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah. Dalam konteks syariat, makna tersebut merujuk pada kondisi manusia yang kembali suci setelah ditempa ibadah Ramadan.
Idul Fitri juga dimaknai sebagai hari kebahagiaan yang disyariatkan untuk mensyukuri keberhasilan menjalankan ibadah puasa.
Praktik Idul Fitri ala Rasulullah
Berikut beberapa sunnah yang dicontohkan Rasulullah dalam merayakan Idul Fitri menurut para ulama berdasarkan hadis shohih
1. Mengumandangkan Takbir
Sejak malam Idul Fitri, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk memperbanyak takbir. Dalam riwayat Shahih Bukhari, para sahabat mengumandangkan takbir di masjid, rumah, hingga jalanan sebagai bentuk pengagungan kepada Allah.

