
Pertanyaan ini menjadi refleksi penting: apakah puasa, salat tarawih, sedekah, dan tilawah Al-Qur’an yang telah dilakukan benar-benar diterima? Dalam ajaran Islam, hal tersebut merupakan perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.
Namun, terdapat sejumlah tanda yang dapat menjadi indikator. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, hadis, dan pandangan ulama, salah satunya Ustadz Muhammad Idris, LC (Alumnus PP. Imam Bukhari Alumnus S1 Syariah Universitas Islam Madinah, KSA)
Amal Ditentukan oleh Akhirnya
Salah satu prinsip penting dalam Islam adalah amal seseorang bergantung pada akhirnya. Hal ini ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam :
“Sungguh, seseorang (kadang) beramal dengan amalan penghuni surga di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni neraka…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan: “Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada akhirnya.” (HR. Ibnu Hibban)
Hadis ini menjadi pengingat agar seorang Muslim tidak merasa aman dengan amal yang telah dilakukan, melainkan terus menjaga konsistensi hingga akhir hayat, termasuk setelah Ramadan.
Perubahan Menjadi Lebih Baik
Salah satu tanda diterimanya amal adalah adanya perubahan ke arah yang lebih baik setelah Ramadan. Seseorang menjadi lebih taat, lebih semangat beribadah, dan lebih berhati-hati dalam menjauhi dosa.
Para ulama menjelaskan kondisi hati yang lapang, semangat dalam kebaikan, serta berkurangnya perbuatan buruk merupakan tanda taufik dari Allah Subhanahuwata’ala.



