alexametrics
31 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Rogoh Dana hingga Rp800 Ribu untuk Terang di Rumah

Kehidupan Warga Desa Teluk Bakung Tanpa Listrik Negara

Bagi masyarakat Desa Teluk Bakung, listrik adalah surga. Sejak Indonesia merdeka, nyala terang dari perusahaan seterum negara belum lagi dikecap. Persoalan ketiadaan listrik itu mengakar ke segala bidang. 

MIRZA AHMAD MUIN, Teluk Bakung

LETAK Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang berada di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Dari pusat kota, jaraknya kurang lebih 50 kilometer, dengan waktu satu jam menggunakan mobil menyusuri Jalan Trans Kalimantan.

Meski jarak Teluk Bakung ke pusat kota tidak memakan waktu begitu lama, Teluk Bakung masih jauh dari kata maju. Salah satu indikatornya, ketiadaan fasilitas listrik negara di desa enam dusun itu.

Akibat ketiadaan listrik. Anggaran penerangan bulanan masyarakat setempat menjadi tinggi. Itu karena beban biaya penerangan masyarakat masih menggunakan mesin genset berbahan bakar minyak. Dalam sebulan, mau tak mau masyarakat mesti menyediakan minimal Rp800 ribu sampai satu juta rupiah buat penerangan waktu malam.

Belum teraliri listrik negara bukan hanya berbicara gelap. Rupanya ada banyak dampak akibat ketiadaan listrik di sana. Seperti yang dialami warga Desa Teluk Bakung, Fransiskus Mulyadi, terpaksa tidak menyekolahkan tiga anaknya. Itu karena uang yang dimiliki sebagian besarnya sudah habis tersedot buat biaya penerangan di malam hari.

Baca Juga :  Ingatkan Satgas Pentingnya Data Perkembangan Covid-19

“Ongkos penerangan masyarakat Teluk Bakung hingga kini masih menggunakan genset. Dalam sehari minimal butuh delapan liter bensin. Seliternya Rp10 ribu. Delapan liter kali sebulan sudah Rp800 ribu. Itupun saya tak pakai macam-macam,” ungkapnya.

Karena beban penerang menggunakan genset begitu besar. Dia tak mampu menanggung biaya anak sekolah. Dari lima anak yang dia miliki. Kini tiga orangnya terpaksa putus sekolah. Coba jika listrik negara ada di sini. Biaya penerang yang mencapai ratusan ribu, dapat ditekan dan ditabung buat kebutuhan anak sekolah.

Selain sektor pendidikan. Ketiadaan listrik juga dirasakan di sektor kesehatan. Hal itu terasa ketika mengantar warga sakit ke Pustu desa pada waktu malam. Layanan kesehatan disana jelas dia menggunakan pelita. Belum lagi jalan menuju Pustu begitu gelap. “Cuma senter jadi senjata kami,” keluhnya.

Hal senada dikatakan Kepala Seksi Pemerintahan (Kasipem) Desa Teluk Bakung, Ignasius Dundun. Listrik, kata dia, menjadi indikator utama dalam kemajuan sebuah desa. Namun sejak lama, empat dusun dari enam dusun di Desa Teluk Bakung belum teraliri listrik.

Padahal, kata dia, peran listrik bagi masyarakat vital dan berada di posisi sentral. Di kantor Desa Teluk Bakung, lanjut dia, kepengurusan administrasi perlahan sudah merambah pada sistem komputerisasi. Namun karena listrik belum tersentuh, maka pelayanan di kantor desa belum bisa menggunakan komputer.

Baca Juga :  Muda Perpanjang Proses Belajar dari Rumah

Seingat dia, dulu pernah mencoba menghidupkan komputer dengan tenaga genset. Namun karena tegangan tidak stabil. Dia mengurungkan niat menggunakan komputer untuk keperluan administrasi desa. Ketiadaan listrik membuat dirinya tak bisa mengakses banyak hal. Utamanya yang terkait dengan seputaran informasi desa.

Manager PLN ULP Siantan, Mohamad Maula mengatakan bahwa pihak PLN saat ini tengah konsen melakukan penerangan diseluruh wilayah Kalbar. Untuk Desa Teluk Bakung memang menjadi perhatian. Apalagi lokasi desa ini tidak begitu jauh dan berada di Jalan Trans Kalimantan.

“Saat ini ada dua Kabar baik bagi Desa Teluk Bakung karena 13 kilometer sirkuit (KMS) semester 1 tahun 2020 sudah masuk jaringan dan tahun depan Insyaallah bisa menyala,” ungkapnya.

Desa Teluk Bakung lanjutnya memang sudah masuk dalam rencana pengembangan jaringan PLN. Sementara untuk anggaran sudah ada dan keluar akhir tahun ini.

“Tahap awal ini kami akan bangun 13 KMS dulu sedangkan 10 KMS akan dibangunkan pada tahap kedua. Sehingga 2021 sepanjang Jalan Trans Kalimantan ini teraliri,” tandasnya.(*)

Kehidupan Warga Desa Teluk Bakung Tanpa Listrik Negara

Bagi masyarakat Desa Teluk Bakung, listrik adalah surga. Sejak Indonesia merdeka, nyala terang dari perusahaan seterum negara belum lagi dikecap. Persoalan ketiadaan listrik itu mengakar ke segala bidang. 

MIRZA AHMAD MUIN, Teluk Bakung

LETAK Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang berada di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Dari pusat kota, jaraknya kurang lebih 50 kilometer, dengan waktu satu jam menggunakan mobil menyusuri Jalan Trans Kalimantan.

Meski jarak Teluk Bakung ke pusat kota tidak memakan waktu begitu lama, Teluk Bakung masih jauh dari kata maju. Salah satu indikatornya, ketiadaan fasilitas listrik negara di desa enam dusun itu.

Akibat ketiadaan listrik. Anggaran penerangan bulanan masyarakat setempat menjadi tinggi. Itu karena beban biaya penerangan masyarakat masih menggunakan mesin genset berbahan bakar minyak. Dalam sebulan, mau tak mau masyarakat mesti menyediakan minimal Rp800 ribu sampai satu juta rupiah buat penerangan waktu malam.

Belum teraliri listrik negara bukan hanya berbicara gelap. Rupanya ada banyak dampak akibat ketiadaan listrik di sana. Seperti yang dialami warga Desa Teluk Bakung, Fransiskus Mulyadi, terpaksa tidak menyekolahkan tiga anaknya. Itu karena uang yang dimiliki sebagian besarnya sudah habis tersedot buat biaya penerangan di malam hari.

Baca Juga :  Optimalkan Penerapan ETLE

“Ongkos penerangan masyarakat Teluk Bakung hingga kini masih menggunakan genset. Dalam sehari minimal butuh delapan liter bensin. Seliternya Rp10 ribu. Delapan liter kali sebulan sudah Rp800 ribu. Itupun saya tak pakai macam-macam,” ungkapnya.

Karena beban penerang menggunakan genset begitu besar. Dia tak mampu menanggung biaya anak sekolah. Dari lima anak yang dia miliki. Kini tiga orangnya terpaksa putus sekolah. Coba jika listrik negara ada di sini. Biaya penerang yang mencapai ratusan ribu, dapat ditekan dan ditabung buat kebutuhan anak sekolah.

Selain sektor pendidikan. Ketiadaan listrik juga dirasakan di sektor kesehatan. Hal itu terasa ketika mengantar warga sakit ke Pustu desa pada waktu malam. Layanan kesehatan disana jelas dia menggunakan pelita. Belum lagi jalan menuju Pustu begitu gelap. “Cuma senter jadi senjata kami,” keluhnya.

Hal senada dikatakan Kepala Seksi Pemerintahan (Kasipem) Desa Teluk Bakung, Ignasius Dundun. Listrik, kata dia, menjadi indikator utama dalam kemajuan sebuah desa. Namun sejak lama, empat dusun dari enam dusun di Desa Teluk Bakung belum teraliri listrik.

Padahal, kata dia, peran listrik bagi masyarakat vital dan berada di posisi sentral. Di kantor Desa Teluk Bakung, lanjut dia, kepengurusan administrasi perlahan sudah merambah pada sistem komputerisasi. Namun karena listrik belum tersentuh, maka pelayanan di kantor desa belum bisa menggunakan komputer.

Baca Juga :  Peserta Bintang Radio Heningkan Cipta

Seingat dia, dulu pernah mencoba menghidupkan komputer dengan tenaga genset. Namun karena tegangan tidak stabil. Dia mengurungkan niat menggunakan komputer untuk keperluan administrasi desa. Ketiadaan listrik membuat dirinya tak bisa mengakses banyak hal. Utamanya yang terkait dengan seputaran informasi desa.

Manager PLN ULP Siantan, Mohamad Maula mengatakan bahwa pihak PLN saat ini tengah konsen melakukan penerangan diseluruh wilayah Kalbar. Untuk Desa Teluk Bakung memang menjadi perhatian. Apalagi lokasi desa ini tidak begitu jauh dan berada di Jalan Trans Kalimantan.

“Saat ini ada dua Kabar baik bagi Desa Teluk Bakung karena 13 kilometer sirkuit (KMS) semester 1 tahun 2020 sudah masuk jaringan dan tahun depan Insyaallah bisa menyala,” ungkapnya.

Desa Teluk Bakung lanjutnya memang sudah masuk dalam rencana pengembangan jaringan PLN. Sementara untuk anggaran sudah ada dan keluar akhir tahun ini.

“Tahap awal ini kami akan bangun 13 KMS dulu sedangkan 10 KMS akan dibangunkan pada tahap kedua. Sehingga 2021 sepanjang Jalan Trans Kalimantan ini teraliri,” tandasnya.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/