alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Api Ratakan Bangunan Sekolah

SUKADANA – Seluruh bangunan gedung SD Fillial SDN Negeri 07 Semanai di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana, rata dilahap api, Sabtu (14/9). Api tersebut berasal lantaran terjadinya kebakaran hutan dan lahan (kkarhutla) di desa tersebut.

Kepala Regu Manggala Agni Kayong Utara, Andri Susanto, yang pada saat itu berada di lokasi memastikan untuk seluruh bangunan sekolah tersebut rata dengan tanah. Ia menyebutkan, mengenai terjadinya kebakaran, sebelumnya terjadi di kawasan transmigrasi hingga merembet ke bagian banguna gedung sekolah ini.

Andri pun sangat menyayangkan atas terbakarnya gedung sekolah tersebut. Namun, kata dia, setidaknya petugas telah berupaya memadamkan amukan api. “Kita semua sudah berusaha, mau bagaimana lagi, untuk di Kabupaten Kayong Utara di mana-mana terjadi kebakaran. Ini saja semua bangunan sekolah tebakar, tersisa tinggal tunggul dari bangunan itu. Api bermula muncul dari kawasan tarsmigrasi yang akhirnya merambat hingga bangunan sekolah itu,” kata Andri.

Andri memperkirakan kebakaran di kawasan transmigrasi tersebut mulai terjadi sekitar pukul 10.30 WIB. Para petugasnya pun usai mengetahui kejadian itu langsung menuju ke lokasi. Namun sayangnya, lantaran tidak didukung sumber air di sekitar proses pemadaman, semuanya menjadi terhambat. Akhirnya bangunan sekolah tidak berhasil mereka selamatkan dari amukan api yang terus menjalar.

Belum lagi, kata dia, saat di lokasi, jumlah personel dan peralatan yang mereka miliki terbatas. Sebab, untuk personel yang ada telah dibagi tugas masiing-masing. Misalnya, Manggala Agni kebagian tugas untuk memadamkan di lahan di kawasan transmigrasi Semanai ini. Sedangkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Balai Tanagupa (Balai Taman Nasional Gunung Palung) melakukan pemadaman di lahan dekat RSUD Sultan Muhammad Jamaludin I dan SMP Negeri 3 Sukadana. “Kami sulit menemukan sumber air. Apa lagi untuk jarak dari Pondok Kerja di Sukadana sekitar 25 menit ke lokasi transmigrasi Semanai ini,” tutupnya.

Sementara itu, kemarin (15/9) Wakil Ketua Sementara DPRD Kabupaten Kayong Utara, Dedy Effendy, meninjau kondisi lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), satu diantaranya di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana, tepatnya di kawasan pemukiman transmigrasi Semanai. Legislator Partai Hanura tersebut meninjau langsung kondisi gedung SD Fillial SDN 07 Semanai yang rata dengan tanah akibat diamuk si jago merah, sehari setelah kejadian.

Baca Juga :  Tahun Depan Masuk ke 60 Desa dan 7 Kelurahan

Ia berharap kepada pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan untuk segera mencarikan gedung sementara, yang akan dipergunakan untuk sarana belajar mengajar. “Kita tidak mau karena kejadian ini menghambat proses belajar anak didik apalagi sekarang sudah mau mendekati ulangan umum,” terangnya.

Selain melihat kondisi gedung sekolah yang ludes, Dedy juga sempat menemui sejumlah warga dan berdialog soal mengatasi karhutla. “Kita sempat berbincang dengan beberapa warga terkait kesiapan dalam hal meminimalisir kebakaran terhadap beberapa fasilitas umum lainnya,” ungkap Dedy yang merupakan mantan Ketua KPU Kayong Utara ini.

Sementara itu, Kepala Desa Simpang Tiga, Rajali, mengaku prihatin atas musibah yang menghanguskan gedung sekolah yang belum lama dibangun di pemukiman transmigrasi itu. Ia mengaku, sempat melihat langsung ke lokasi kejadian. Dia juga mempelajari bagaimana api dengan begitu cepat menghanguskan gedung dengan jumlah ruangan tiga lokal itu.

“Untuk lokasi transmigrasi Semanai memang memiliki gambut yang lumayan tebal. Bahkan, api di lahan gambut sangat sulit dipadamkan. Warga sudah berupaya untuk memadamkan, namun keterbatasan peralatan, gedung sekolah pun tak bisa diselamatkan,” ungkapnya.

Kades berpesan kepada warga transmigrasi lebih berhati-hati. Terlebih di malam hari, dia berharap agar mereka hendaknya dapat melihat kondisi perkarangan di sekeliling rumah. “Kalau mau tidur di malam hari, pastikan dulu lahan di sekitar rumah aman dari api,” imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan bahwa api telah mengepung RSUD Sultan Muhammad Jamaluddin I Sukadana bersama SMP Negeri 03 Sukadana, serta sejumlah pemukiman milik warga di Jalan Provinsi Dusun Senebing, Desa Harapan Mulia, Kecamatan Sukadana, Sabtu (14/9). Atas peristiwa ini sejumlah petugas berjibaku memadamkan api, walau dalam proses pemadaman petugas kesulitan menemukan sumber air.

Kepala SMP Negeri 03 Sukadana, Sabandi, menjelaskan, sumber api awal mula diketahui sejak Jumat (13/9) pagi. Namun api tersebut, menurut dia, berhasil dipadamkan. Tetapi, sambung dia, pada Jumat malamnya api kembali lagi menyala hingga Sabtu (14/9).

Baca Juga :  Jalan Tobat Pembalak Liar

“Api itu kelihatan jauh dari lokasi sekolah, posisinya berada di belakang. Kemudian perlahan api terus merambat sampai mendekati bangunan sekolah, Rumah Sakit, hingga permukiman warga sekitar pukul 10.00 malam, sampailah hari ini (13/9),” jelasnya.

Ia menjelaskan, untuk siswa SMP Negeri 03 Sukadana sendiri telah diliburkan sejak dua hari lalu. Hal itu dilakukan mereka demi melihat kondisi kabut asap yang cukup pekat dan lokasi kebakaran tidak jauh dari bangunan sekolah. Sabandi menegaskan, diliburkannya aktivitas belajar dan mengajar  di sekolah, bukan berarti anak-anak tidak belajar. Namun, anak- anak tersebut diharapkan dia dapat belajar di rumah, dengan pengawasan orangtua.

“Kita meliburkan siswa untuk tidak sekolah sementara tentunya dengan melihat situasi yang tidak memugkinkan. Namun, untuk anak-anak yang kita liburkan bukan berarti mereka di rumah berkeliaran di luar rumah. Melainkan dapat belajar dengan tugas-tugas yang telah diberikan oleh guru. Untuk itu kami berharap kepada orangtua agar dapat mengawasi anak-anak mereka,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kayong Utara Muhammad Oma menjelaskan, proses pemadaman tersebut juga melibatkan Manggala Agni, warga, serta TNI dan Polri. Diakui dia, dalam proses pemadaman tersebut mereka kesulitan menemukan sumber air. “Jadi harus mengangkut dengan menggunakan mobil tangki yang ada,” aku dia.

Sementara itu, untuk proses pemadaman dengan mengggunakan water bombing, pihaknya sendiri telah melakukan koordinasi. Namun sayangnya, kondisi kabut asap yang cukup pekat, menurut dia, menyebabkan helikopter yang akan melakukan kegiaitan mengalami kesulitan. “Water bombing sudah dari tiga hari yang lalu sudah kita ajukan terus, agar dapat merapat ke Kayong Utara. Namun rencana awalnya akan membantu memadamkan di Desa Medan Jaya, selanjutnya akan ke lokasi Rumah Sakit, sekolah, dan permumikan warga. Tetapi ada kabar dari pilot helikopter lokasi tersebut cukup bahaya jika mendekat. Apa lagi kita lihat kabut asap yang cukup tebal seperti ini,” tutupnya. (dan)

 

SUKADANA – Seluruh bangunan gedung SD Fillial SDN Negeri 07 Semanai di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana, rata dilahap api, Sabtu (14/9). Api tersebut berasal lantaran terjadinya kebakaran hutan dan lahan (kkarhutla) di desa tersebut.

Kepala Regu Manggala Agni Kayong Utara, Andri Susanto, yang pada saat itu berada di lokasi memastikan untuk seluruh bangunan sekolah tersebut rata dengan tanah. Ia menyebutkan, mengenai terjadinya kebakaran, sebelumnya terjadi di kawasan transmigrasi hingga merembet ke bagian banguna gedung sekolah ini.

Andri pun sangat menyayangkan atas terbakarnya gedung sekolah tersebut. Namun, kata dia, setidaknya petugas telah berupaya memadamkan amukan api. “Kita semua sudah berusaha, mau bagaimana lagi, untuk di Kabupaten Kayong Utara di mana-mana terjadi kebakaran. Ini saja semua bangunan sekolah tebakar, tersisa tinggal tunggul dari bangunan itu. Api bermula muncul dari kawasan tarsmigrasi yang akhirnya merambat hingga bangunan sekolah itu,” kata Andri.

Andri memperkirakan kebakaran di kawasan transmigrasi tersebut mulai terjadi sekitar pukul 10.30 WIB. Para petugasnya pun usai mengetahui kejadian itu langsung menuju ke lokasi. Namun sayangnya, lantaran tidak didukung sumber air di sekitar proses pemadaman, semuanya menjadi terhambat. Akhirnya bangunan sekolah tidak berhasil mereka selamatkan dari amukan api yang terus menjalar.

Belum lagi, kata dia, saat di lokasi, jumlah personel dan peralatan yang mereka miliki terbatas. Sebab, untuk personel yang ada telah dibagi tugas masiing-masing. Misalnya, Manggala Agni kebagian tugas untuk memadamkan di lahan di kawasan transmigrasi Semanai ini. Sedangkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Balai Tanagupa (Balai Taman Nasional Gunung Palung) melakukan pemadaman di lahan dekat RSUD Sultan Muhammad Jamaludin I dan SMP Negeri 3 Sukadana. “Kami sulit menemukan sumber air. Apa lagi untuk jarak dari Pondok Kerja di Sukadana sekitar 25 menit ke lokasi transmigrasi Semanai ini,” tutupnya.

Sementara itu, kemarin (15/9) Wakil Ketua Sementara DPRD Kabupaten Kayong Utara, Dedy Effendy, meninjau kondisi lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), satu diantaranya di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana, tepatnya di kawasan pemukiman transmigrasi Semanai. Legislator Partai Hanura tersebut meninjau langsung kondisi gedung SD Fillial SDN 07 Semanai yang rata dengan tanah akibat diamuk si jago merah, sehari setelah kejadian.

Baca Juga :  Bahas Tarif Videotron

Ia berharap kepada pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan untuk segera mencarikan gedung sementara, yang akan dipergunakan untuk sarana belajar mengajar. “Kita tidak mau karena kejadian ini menghambat proses belajar anak didik apalagi sekarang sudah mau mendekati ulangan umum,” terangnya.

Selain melihat kondisi gedung sekolah yang ludes, Dedy juga sempat menemui sejumlah warga dan berdialog soal mengatasi karhutla. “Kita sempat berbincang dengan beberapa warga terkait kesiapan dalam hal meminimalisir kebakaran terhadap beberapa fasilitas umum lainnya,” ungkap Dedy yang merupakan mantan Ketua KPU Kayong Utara ini.

Sementara itu, Kepala Desa Simpang Tiga, Rajali, mengaku prihatin atas musibah yang menghanguskan gedung sekolah yang belum lama dibangun di pemukiman transmigrasi itu. Ia mengaku, sempat melihat langsung ke lokasi kejadian. Dia juga mempelajari bagaimana api dengan begitu cepat menghanguskan gedung dengan jumlah ruangan tiga lokal itu.

“Untuk lokasi transmigrasi Semanai memang memiliki gambut yang lumayan tebal. Bahkan, api di lahan gambut sangat sulit dipadamkan. Warga sudah berupaya untuk memadamkan, namun keterbatasan peralatan, gedung sekolah pun tak bisa diselamatkan,” ungkapnya.

Kades berpesan kepada warga transmigrasi lebih berhati-hati. Terlebih di malam hari, dia berharap agar mereka hendaknya dapat melihat kondisi perkarangan di sekeliling rumah. “Kalau mau tidur di malam hari, pastikan dulu lahan di sekitar rumah aman dari api,” imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan bahwa api telah mengepung RSUD Sultan Muhammad Jamaluddin I Sukadana bersama SMP Negeri 03 Sukadana, serta sejumlah pemukiman milik warga di Jalan Provinsi Dusun Senebing, Desa Harapan Mulia, Kecamatan Sukadana, Sabtu (14/9). Atas peristiwa ini sejumlah petugas berjibaku memadamkan api, walau dalam proses pemadaman petugas kesulitan menemukan sumber air.

Kepala SMP Negeri 03 Sukadana, Sabandi, menjelaskan, sumber api awal mula diketahui sejak Jumat (13/9) pagi. Namun api tersebut, menurut dia, berhasil dipadamkan. Tetapi, sambung dia, pada Jumat malamnya api kembali lagi menyala hingga Sabtu (14/9).

Baca Juga :  Jaga Kebersihan Pantai dan Laut

“Api itu kelihatan jauh dari lokasi sekolah, posisinya berada di belakang. Kemudian perlahan api terus merambat sampai mendekati bangunan sekolah, Rumah Sakit, hingga permukiman warga sekitar pukul 10.00 malam, sampailah hari ini (13/9),” jelasnya.

Ia menjelaskan, untuk siswa SMP Negeri 03 Sukadana sendiri telah diliburkan sejak dua hari lalu. Hal itu dilakukan mereka demi melihat kondisi kabut asap yang cukup pekat dan lokasi kebakaran tidak jauh dari bangunan sekolah. Sabandi menegaskan, diliburkannya aktivitas belajar dan mengajar  di sekolah, bukan berarti anak-anak tidak belajar. Namun, anak- anak tersebut diharapkan dia dapat belajar di rumah, dengan pengawasan orangtua.

“Kita meliburkan siswa untuk tidak sekolah sementara tentunya dengan melihat situasi yang tidak memugkinkan. Namun, untuk anak-anak yang kita liburkan bukan berarti mereka di rumah berkeliaran di luar rumah. Melainkan dapat belajar dengan tugas-tugas yang telah diberikan oleh guru. Untuk itu kami berharap kepada orangtua agar dapat mengawasi anak-anak mereka,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kayong Utara Muhammad Oma menjelaskan, proses pemadaman tersebut juga melibatkan Manggala Agni, warga, serta TNI dan Polri. Diakui dia, dalam proses pemadaman tersebut mereka kesulitan menemukan sumber air. “Jadi harus mengangkut dengan menggunakan mobil tangki yang ada,” aku dia.

Sementara itu, untuk proses pemadaman dengan mengggunakan water bombing, pihaknya sendiri telah melakukan koordinasi. Namun sayangnya, kondisi kabut asap yang cukup pekat, menurut dia, menyebabkan helikopter yang akan melakukan kegiaitan mengalami kesulitan. “Water bombing sudah dari tiga hari yang lalu sudah kita ajukan terus, agar dapat merapat ke Kayong Utara. Namun rencana awalnya akan membantu memadamkan di Desa Medan Jaya, selanjutnya akan ke lokasi Rumah Sakit, sekolah, dan permumikan warga. Tetapi ada kabar dari pilot helikopter lokasi tersebut cukup bahaya jika mendekat. Apa lagi kita lihat kabut asap yang cukup tebal seperti ini,” tutupnya. (dan)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/