alexametrics
33 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Kapolresta: Kami Kejar Terus Pembakar Lahan

Cegah Bertambahnya Titik Panas  

SUNGAI RAYA — Melihat masih adanya titik hotspot disejumlah wilayah Kalimantan Barat termasuk Kubu Raya, membuat pemerintah kabupaten termuda di Kalbar ini, pada Sabtu (14/9) menggelar rapat koordinasi pencegahan dan pengendalian kebakaran lahan pada areal konsesi perkebunan dan sekitarnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kubu Raya, Mokhtar mengatakan, berdasarkan hasil koordinasi  yang dilakukan pihaknya bersama Badan Metorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Supadio, diperkirakan musim kemarau masih akan terjadi hingga awal Oktober mendatang.

“Karena perkiraan musim kemarau ini masih berlanjut hingga beberapa pekan, kami berharap melalui rapat koordinasi lintas sektor ini, setidaknya bisa mengantisipasi kembali meningkatnya jumlah hotspot terutama di Kubu Raya,”kata Mokhtar usai menghadiri rapat rapat koordinasi pencegahan dan pengendalian kebakaran lahan pada areal konsesi perkebunan dan sekitarnya di ruang rapat Bupati Kubu Raya.

Bagi Mokhtar, rapat koordinasi dan sosialisasi merupakan satu bentuk upaya bersama mencari solusi agar dapat terlepas dari musibah bencana kabut asap yang terjadi sejak Agustus hingga September 2019.

“Kami berharap pihak terkait terus bersama-sama melakukan pencegahan dan penanganan kebakaran lahan. Kita harus bisa bersama-sama mencarikan solusinya,” ujarnya.

Kapolresta Pontianak, AKBP Ade Ary Syam Indradi yang turut menghadiri rapat koordinasi menyatakan kesiapan pihaknya untuk bersama-sama melakukan pencegahan dan penanganan karhutla khususnya di Kubu Raya.

“Kapanpun kami diundang dan diajak turun kami menyatakan siap untuk bersama-masa melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan,”ucapnya.

Ade menegaskan untuk selalu berkomitmen melakukan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan. Bahkan pihaknya akan terus mencari para pelaku pembakar lahan. “Karena semua sudah ada aturannya, tidak ada alasan untuk tidak tahu tentang aturan itu,” jelasnya.

Baca Juga :  Lahan Perusahaan Kembali Terbakar

Dia menambahkan, menurut analisis Kapolda Kalbar, 99,9 persen penyebab kebakaran lahan karena ulah manusia. Bukan karena lahan gambut, angin dan sebagainya. “Walaupun lahan gambut terbakar, tentu ada penyebab awalnya. Ada api karena ulah manusia. Ini yang harus kita sadarkan bersama-sama,” terangnya.

Kapolres Mempawah, AKBP Didik Dwi Santoso menambahkan, masalah kebakaran lahan selalu terjadi di setiap tahun. Berulang di bulan Agustus hingga September. Ia mengungkapkan, hingga saat ini titik api yang terbanyak berada di wilayah hukum Polres Mempawah termasuk yang di Kubu Raya yakni di Kecamatan Batu Ampar.

“Keterbatasan personel dan prasarana menjadi hambatan, antara luas wilayah dengan jumlah personel dan jumlah sarana dan prasarana tidak berimbang,” ungkapnya.

Berdasarkan pantauan yang dilakukan pihaknya, kebakaran lahan yang terjadi selama ini selalu berulang di lokasi yang sama. Setiap menjelang musim hujan dari musim kemarau, titik api semakin banyak.

“Jika kami perhatikan sejak Agustus hingga September ini, beberapa pekan terakhir ini titik api semakin banyak,” terangnya.

Untuk mengantisipasi, kian bertambahnya titik api Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan kembali mengimbau semua elemen masyarakat khususnya di Kubu Raya untuk sama-sama menjaga lingkungan di tempat tinggal masing-masing agar terhindar dari kebakaran hutan dan lahan. “Dan tentunya hindari atau jangan lakukan aktivitas membuka lahan dengan cara membakar,” tegasnya.

Muda menambahkan, rapat koordinasi yang digelar tersebut, bertujuan sebagai upaya memfokuskan dan memasifkan gerakan semua pihak agar ikut merasa berkepentingan.

Baca Juga :  Permudah Pelayanan Perizinan dengan Sicantik Cloud

“Kita sama-sama berharap semoga ini dapat merubah mindset semua pihak sebagai cara-cara penanganan serta bersahabat dengan alam,” tambahnya.

Saat ini, kata Muda, Kubu Raya mendapat tantangan terkait persoalan kebakaran lahan. Karena  Kubu Raya memiliki lahan yang sangat luas. Menurut dia, penegakan hukum diperlukan namun saat yang sama sosialisasi yang bersifat praktis harus diperkuat.

“Misalnya praktik membuka lahan dengan cara tanpa membakar, dan lain sejenisnya,” ujarnya.

Meski begitu, Muda menilai kebakaran lahan di Kubu Raya semakin tahun semakin berkurang. Pemerintah daerah, menurut dia, terus berkoordinasi dengan pemerintah desa agar terus berupaya melakukan langkah pencegahan.

“Desa-desa juga sudah banyak memberlakukan aturan internal. Meskipun saat ini masih ada kebakaran lahan, namun sangat berkurang jauh,” katanya.

Muda mengatakan, persoalan karhutla di Kabupaten Kubu Raya menjadi perhatian serius. Pemerintah daerah, ujarnya, terus berkoordinasi dengan perusahaan-perusahaan perkebunan yang ada di Kubu Raya dengan upaya imbauan dan penguatan prasarana dan sarana.

“Kami juga terus berupaya agar perusahaan bisa memperkuat sarana dan prasarana serta merekrut lebih banyak lagi masyarakat sekitar untuk terlibat dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran lahan,” pungkasnya.

Selain Bupati dan sejumlah jajaran Pemerintah Kubu Raya, rapat koordinasi tersebut juag dihadiri unsur kepolisian, TNI, instansi terkait lainnya, dan sejumlah perwakilan perusahaan termasuk 28 perusahaan perkebunan kelapa sawit. Rapat juga dirangkaikan dengan kegiatan Sosialisasi Peraturan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 39 Tahun 2019 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan. (ash)

 

 

Cegah Bertambahnya Titik Panas  

SUNGAI RAYA — Melihat masih adanya titik hotspot disejumlah wilayah Kalimantan Barat termasuk Kubu Raya, membuat pemerintah kabupaten termuda di Kalbar ini, pada Sabtu (14/9) menggelar rapat koordinasi pencegahan dan pengendalian kebakaran lahan pada areal konsesi perkebunan dan sekitarnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kubu Raya, Mokhtar mengatakan, berdasarkan hasil koordinasi  yang dilakukan pihaknya bersama Badan Metorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Supadio, diperkirakan musim kemarau masih akan terjadi hingga awal Oktober mendatang.

“Karena perkiraan musim kemarau ini masih berlanjut hingga beberapa pekan, kami berharap melalui rapat koordinasi lintas sektor ini, setidaknya bisa mengantisipasi kembali meningkatnya jumlah hotspot terutama di Kubu Raya,”kata Mokhtar usai menghadiri rapat rapat koordinasi pencegahan dan pengendalian kebakaran lahan pada areal konsesi perkebunan dan sekitarnya di ruang rapat Bupati Kubu Raya.

Bagi Mokhtar, rapat koordinasi dan sosialisasi merupakan satu bentuk upaya bersama mencari solusi agar dapat terlepas dari musibah bencana kabut asap yang terjadi sejak Agustus hingga September 2019.

“Kami berharap pihak terkait terus bersama-sama melakukan pencegahan dan penanganan kebakaran lahan. Kita harus bisa bersama-sama mencarikan solusinya,” ujarnya.

Kapolresta Pontianak, AKBP Ade Ary Syam Indradi yang turut menghadiri rapat koordinasi menyatakan kesiapan pihaknya untuk bersama-sama melakukan pencegahan dan penanganan karhutla khususnya di Kubu Raya.

“Kapanpun kami diundang dan diajak turun kami menyatakan siap untuk bersama-masa melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan,”ucapnya.

Ade menegaskan untuk selalu berkomitmen melakukan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan. Bahkan pihaknya akan terus mencari para pelaku pembakar lahan. “Karena semua sudah ada aturannya, tidak ada alasan untuk tidak tahu tentang aturan itu,” jelasnya.

Baca Juga :  Permudah Pelayanan Perizinan dengan Sicantik Cloud

Dia menambahkan, menurut analisis Kapolda Kalbar, 99,9 persen penyebab kebakaran lahan karena ulah manusia. Bukan karena lahan gambut, angin dan sebagainya. “Walaupun lahan gambut terbakar, tentu ada penyebab awalnya. Ada api karena ulah manusia. Ini yang harus kita sadarkan bersama-sama,” terangnya.

Kapolres Mempawah, AKBP Didik Dwi Santoso menambahkan, masalah kebakaran lahan selalu terjadi di setiap tahun. Berulang di bulan Agustus hingga September. Ia mengungkapkan, hingga saat ini titik api yang terbanyak berada di wilayah hukum Polres Mempawah termasuk yang di Kubu Raya yakni di Kecamatan Batu Ampar.

“Keterbatasan personel dan prasarana menjadi hambatan, antara luas wilayah dengan jumlah personel dan jumlah sarana dan prasarana tidak berimbang,” ungkapnya.

Berdasarkan pantauan yang dilakukan pihaknya, kebakaran lahan yang terjadi selama ini selalu berulang di lokasi yang sama. Setiap menjelang musim hujan dari musim kemarau, titik api semakin banyak.

“Jika kami perhatikan sejak Agustus hingga September ini, beberapa pekan terakhir ini titik api semakin banyak,” terangnya.

Untuk mengantisipasi, kian bertambahnya titik api Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan kembali mengimbau semua elemen masyarakat khususnya di Kubu Raya untuk sama-sama menjaga lingkungan di tempat tinggal masing-masing agar terhindar dari kebakaran hutan dan lahan. “Dan tentunya hindari atau jangan lakukan aktivitas membuka lahan dengan cara membakar,” tegasnya.

Muda menambahkan, rapat koordinasi yang digelar tersebut, bertujuan sebagai upaya memfokuskan dan memasifkan gerakan semua pihak agar ikut merasa berkepentingan.

Baca Juga :  Arus Balik Mulai Hari Ini

“Kita sama-sama berharap semoga ini dapat merubah mindset semua pihak sebagai cara-cara penanganan serta bersahabat dengan alam,” tambahnya.

Saat ini, kata Muda, Kubu Raya mendapat tantangan terkait persoalan kebakaran lahan. Karena  Kubu Raya memiliki lahan yang sangat luas. Menurut dia, penegakan hukum diperlukan namun saat yang sama sosialisasi yang bersifat praktis harus diperkuat.

“Misalnya praktik membuka lahan dengan cara tanpa membakar, dan lain sejenisnya,” ujarnya.

Meski begitu, Muda menilai kebakaran lahan di Kubu Raya semakin tahun semakin berkurang. Pemerintah daerah, menurut dia, terus berkoordinasi dengan pemerintah desa agar terus berupaya melakukan langkah pencegahan.

“Desa-desa juga sudah banyak memberlakukan aturan internal. Meskipun saat ini masih ada kebakaran lahan, namun sangat berkurang jauh,” katanya.

Muda mengatakan, persoalan karhutla di Kabupaten Kubu Raya menjadi perhatian serius. Pemerintah daerah, ujarnya, terus berkoordinasi dengan perusahaan-perusahaan perkebunan yang ada di Kubu Raya dengan upaya imbauan dan penguatan prasarana dan sarana.

“Kami juga terus berupaya agar perusahaan bisa memperkuat sarana dan prasarana serta merekrut lebih banyak lagi masyarakat sekitar untuk terlibat dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran lahan,” pungkasnya.

Selain Bupati dan sejumlah jajaran Pemerintah Kubu Raya, rapat koordinasi tersebut juag dihadiri unsur kepolisian, TNI, instansi terkait lainnya, dan sejumlah perwakilan perusahaan termasuk 28 perusahaan perkebunan kelapa sawit. Rapat juga dirangkaikan dengan kegiatan Sosialisasi Peraturan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 39 Tahun 2019 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan. (ash)

 

 

Most Read

Artikel Terbaru

/